2 tahun Disway Malang

Hari Kebudayaan Nasional, Kabupaten Malang Soroti Regenerasi Seniman

Hari Kebudayaan Nasional, Kabupaten Malang Soroti Regenerasi Seniman

Tari Topeng Malangan--

KEPANJEN, DISWAYMALANG.ID –Regenerasi seniman menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional di Kabupaten Malang. Pemerintah daerah mendorong keterlibatan generasi muda agar berbagai kesenian khas Malang tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Drs Firmando H Matondang MM menegaskan pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui pertunjukan. Keberadaan penerus menjadi faktor penting agar kesenian tradisional tetap hidup lintas generasi.

“Wayang Topeng Malang, Tari Beskalan, Bantengan, Jaranan, hingga Macapat Malangan adalah kekayaan kita. Tantangan kita hari ini bukan hanya soal bagaimana mementaskan, tetapi siapa yang akan mementaskan 10 atau 20 tahun ke depan,” ujarnya.

BACA JUGA:Experience 3.0: Tidak Hanya Disantap, Kuliner Batu Adalah Pengalaman

Pernyataan tersebut disampaikan dalam momentum peringatan Hari Kebudayaan Nasional, Sabtu (17/10), yang mengusung tema “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”.

Menurut Firmando, keberlanjutan kesenian tradisional membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari komunitas seni, sanggar, pelaku budaya, hingga lembaga pendidikan. Kolaborasi itu diperlukan untuk membuka ruang bagi generasi muda agar dapat mengenal, mempelajari, dan mengembangkan kesenian daerah.

“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga potensi masa depan. Ketika kesenian kita hidup, identitas kita kuat, pariwisata kita berkembang, dan ekonomi kreatif daerah juga ikut tumbuh,” tambahnya.

BACA JUGA:Kebakaran Arjuno-Welirang Meluas, Jalur Pendakian Welirang Ditutup 

Kabupaten Malang memiliki beragam kesenian yang merepresentasikan karakter dan sejarah masyarakat setempat. Wayang Topeng Malang menyimpan kekayaan karakter dan cerita tradisional, sedangkan Tari Beskalan menjadi bagian dari khazanah tari khas Malang.

Sementara itu, Bantengan dan Jaranan tumbuh sebagai kesenian rakyat yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Macapat Malangan turut mempertahankan tradisi tembang yang memuat pesan moral serta nilai-nilai kehidupan.

Keragaman tersebut tidak hanya menjadi identitas budaya daerah, tetapi juga berpotensi mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Namun, potensi itu membutuhkan keberlanjutan pelaku seni serta proses pewarisan pengetahuan agar nilai-nilai tradisi tidak terputus oleh perubahan zaman.

BACA JUGA:Experience 3.0: Tidak Hanya Disantap, Kuliner Batu Adalah Pengalaman 

Karena itu, pengenalan budaya kepada generasi muda perlu diikuti kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses berkesenian. Dengan begitu, anak muda tidak hanya mengenal kesenian tradisional sebagai penonton, tetapi juga memiliki peluang menjadi pelaku dan penerusnya.

Sumber: