Experience 3.0: Tidak Hanya Disantap, Kuliner Batu Adalah Pengalaman
Penikmat kuliner di Pasar Among Tani Kota Batu--disway news network
KOTA BATU hanya sepelembaran apel dari tempat tinggal saya di bagian barat kota Malang. Sebagai “bapak kalcer,” saya seringkali harus lewat atau singgah kota Batu di akhir pekan. Terkadang dalam perjalanan turun dari air terjun di Pujon, sepulang hiking di lereng pegunungan Kawi, selepas turun dari Gunung Banyak, atau mengagumi gunung Arjuna dan hawa Sumber Brantas.
Setiap kali lewat Batu, ada banyak pilihan makanan yang bisa didapatkan. Sebagai kota wisata yang selalu menuntut kebaruan, makanan di kota Batu pun terus baru. Mulai dari olahan Susu yang khas dari Desa Brau hingga olahan soto yang disajikan di tanah liat, kita bisa mendapatkan banyak hal dari kota Batu.
Ketika ada diskusi tentang potensi gastronomi kota Batu, saya ikut bertanya. Apakah potensi gastronomi kota Batu berhubungan dengan makanan atau sumber pangan tertentu? Ataukah ada hal lain?
Saat merenung-renung sambil mengingat tempat-tempat makan di Kota Batu, saya semakin cenderung berpandangan bahwa ada berbagai jenis makanan di kota Batu yang menjadikannya sulit dikunci di satu jenis saja.
Apakah Batu hanya untuk olahan apel? Ataukah Batu hanya erat dengan susu? Atau, jangan-jangan batu adalah ibukota sayuran?

Wawan Eko Yulianto PhD--
Tidak sesederhana itu, Kawan. Coba ingat: kalau ingin yang porsi kecil tapi lezat dan mengenyangkan, kita akan memilih Pos Ketan 1967 di alun-alun. Kalau suka daging yang teksturnya tidak biasa, mungkin sate kelinci yang terlintas di pikiran. Namun, kalau Anda adalah orang tua yang mengantarkan anak jalan-jalan ke satu dari spot wisata khasnya Batu, mungkin Anda cukup puas dengan gorengan dan mie instan dalam kemasan gelas styrofoam.
Sebagai episentrum pariwisata, cara kita mengalami makanan di Kota Batu ini tidak biasa-biasa saja. Di sini kita bisa menilik dari tren kajian gastronomi yang diamati oleh Greg Richards dalam artikelnya yang berjudul “Gastronomic experiences in tourism Evolving research perspectives on food and gastronomic experiences in tourism” (2021). Di situ Richards berbicara soal Experience 1.0 hingga Experience 3.0 dalam mendekati kuliner.
Kulineran di Batu ini bukan hanya soal Pengalaman 1.0 (yang nilai pengalamannya berfokus pada produk kuliner dan produsennya) atau bahkan Pengalaman 2.0 (yang tercipta dari kolaborasi antara produsen kuliner dan penikmat—seperti misalnya menikmati kopi bersama kawan di kafe lereng gunung kala senja).
Mungkin pengalaman kuliner di kota batu sudah masuk ke Pengalaman 3.0. Dalam pandangan Richards, pengalaman kuliner tidak bisa dilepaskan dari lingkungan pangan yang lebih luas, yang mencakup di antaranya tempat, orang, produksi, konsumi, dan bahkan relasi budaya. Makan di batu bukan hanya soal kelezatan cita rasanya. Kita makan di Batu karena sedang berwisata, karena mendengar bisikan kawan, atau bahkan karena sebelum terpancing makanan-makanan lainnya.
Ketika membeli Pos Ketan 1967, kita tidak wajib melakukannya di kursi-kursi depan kedai. Kita bisa saja menikmatinya di villa tempat kita menginap bersama keluarga, atau di bangku taman di depan sepeda gunung yang kita parkir. Kita menikmati soto mangkok tanah liat di alun-alun kota Batu ketika beristirahat setelah gowes puluhan kilometer bersama kawan atau keluarga.
Ketika kita bisa mengalami kuliner Batu dengan cara ini, kita mungkin tidak akan buru-buru mengunci kekayaan kuliner Batu hanya di jenis bahan pangan tertentu. Kita jadi justru semakin eksploratif. “Jangan-jangan ada tempat makan lain di Batu buat berhenti di tengah-tengah trail run kita? Jangan-jangan ada tempat ngemil sambil Festival 1000 Bantengan? Adakah olahan susu selain...?”
Yang menjadi tantangan selanjutnya adalah bagaimana cara kita menikmati beragam makanan itu dengan cara yang menyehatkan? Karena, hari-hari ini, selain soal wisata, Batu sangat erat dengan berbagai olahraga yang disebut orang “kalcer”. Tentunya akan sangat ironis kalau di tengah semua itu justru cara kita makan yang tidak sehat kan?
Yang pasti, kuliner di Batu bukan hanya untuk disantap dan direnungkan cita rasanya, tapi juga untuk dialami bersama berbagai pesona lain kota ini.
Sumber:










