2 tahun Disway Malang

Mesin Pencacah Sampah TPS Sisir Batu Mati Sebulan, Solar Subsidi Sulit Didapat

Mesin Pencacah Sampah TPS Sisir Batu Mati Sebulan, Solar Subsidi Sulit Didapat

Lebih dari satu bulan meain pemilah dan pencacah yang ada di TPS Sisir tidak difungsikan karena Solar tidak bisa terakses-panca rp-

BATU, DISWAYMALANG.ID — Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Sisir terpaksa menghentikan operasional mesin pemilah dan pencacahan sampah organik selama kurang lebih satu bulan terakhir. Penyebab utama lumpuhnya aktivitas ini adalah kesulitan pelik yang dialami pengelola dalam mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.  

​Supriadi, ketua TPS Sisir, mengungkapkan bahwa mesin pencacah kompos tidak dapat beroperasi karena pasokan bahan bakar solar habis dan sangat sulit didapatkan. Menurutnya, berbagai upaya pembelian yang telah ditempuh selalu menemui jalan buntu.  

BACA JUGA:Dosen UB Raih Beasiswa DAAD GROW, Teliti Pembiayaan Sampah Perkotaan di Jerman

​Membawa surat pengantar resmi dari pihak kelurahan ke stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) kerap ditolak, sehingga pembelian solar untuk kebutuhan operasional TPS menjadi terhambat. 

"Masalah sampah itu kan masalah dunia, namun kita ditingkat TPS tidak bisa mengambil BBM subsidi," Supriadi, Selasa (13/10/2026).

Dirinya tidak memahami mengapa aturan tentang BBM seketat itu, namun masalah sampah juga tidak masuk dalam aturan tersebut. "Apa sampah ini juga masuk dalam rana jenis usaha?" ujarnya.

BACA JUGA:3 Ton Sampah Terkumpul di Sungai Metro Malang, Gerakan Ngalam Ricik Libatkan Masyarakat

​Di sisi lain, pengelola sampah di TPS tidak sanggup beralih ke solar non-subsidi seperti Pertamina Dex. "Harganya terlalu mahal, mencapai Rp27.000 per liter. Tentu hal tersebut sangat tidak mampu jika digunakan untuk menutupi biaya operasional mesin pemilah dan pencacahan kompos," ujar Supriadi.  

​Terhentinya proses pemilah dan pencacahan ini berdampak besar pada efektivitas pengelolaan sampah. Supriadi menjelaskan, jika sampah tidak dicacah, proses penguraian sampah non-organik menjadi kompos akan memakan waktu jauh lebih lama. Sebaliknya, pencacahan mekanis mempercepat proses daur ulang sampah menjadi kompos siap pakai.

BACA JUGA:Kebakaran di Sidomulyo Batu Diduga dari Bakar Sampah, Api Berhasil Dipadamkan

"Selain itu pemilahan jugamenjadi lambat karena dilaksanakan secara manual oleh pegawai sampah di TPS. Jujur kami sangat berharap ada aturan di Solar untuk TPS agar mesin yang sudah terbeli bisa beroperasi," terangnya.

​Meskipun pihak kelurahan telah berupaya membantu dengan mengeluarkan surat pengantar, aturan di lapangan masih menyulitkan pihak TPS untuk memperoleh BBM di SPBU. Dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga dinilai belum memberikan solusi konkret untuk mengatasi kendala pasokan solar tersebut.  

BACA JUGA:‎Wali Kota Nurochman Ajak Jaga Sungai Brantas Dimulai dari Pilah Sampah di Rumah

​Atas kondisi ini, Supriadi mewakili pengelola TPS berharap adanya kebijakan dan perhatian nyata dari pemerintah. Mereka meminta agar ada kemudahan akses dan regulasi yang memihak bagi TPS dalam memperoleh bahan bakar solar bersubsidi, sehingga program pengolahan sampah mandiri di Kota Batu dapat kembali berjalan lancar. 

Sumber:

Berita Terkait