Hari Kapas Sedunia: Indonesia Masih Impor, Kapas Malang Raya Hampir Tak Terdengar, Ini Datanya

Hari Kapas Sedunia: Indonesia Masih Impor, Kapas Malang Raya Hampir Tak Terdengar, Ini Datanya

Hari Kapas Sedunia 7 Oktober 2026. -Indonesia.un.org--

MALANG, DISWAYMALANG.ID - Hari Kapas Sedunia yang diperingati setiap 7 Oktober menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan komoditas kapas dari kebun hingga menjadi pakaian yang dikenakan sehari-hari.

Indonesia memiliki industri tekstil dan produk tekstil yang besar. Tetapi bahan baku kapasnya masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Produksi kapas domestik diperkirakan hanya sekitar 435 ton, sementara kebutuhan industri mencapai lebih dari 1,8 juta bale kapas per tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan besar antara produksi kapas di dalam negeri dengan kebutuhan industri pemintalan. Menariknya, kapas yang masuk ke Indonesia tidak seluruhnya berhenti sebagai produk konsumsi dalam negeri. Sebagian diolah menjadi benang dan kain yang kemudian kembali menjadi komoditas ekspor.

Produksi Kapas Indonesia Masih Sangat Kecil

Data terbaru USDA untuk tahun pemasaran 2026/2027 memperkirakan produksi kapas Indonesia hanya sekitar 2.000 bale atau setara sekitar 435 ton. Angka tersebut masih kurang dari 1 persen kebutuhan industri dalam negeri.

Sejumlah daerah yang masih tercatat sebagai penghasil kapas antara lain Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara dan Jawa Tengah. Produksinya tetap sangat kecil dibandingkan kebutuhan industri tekstil nasional.

Sebagai perbandingan, untuk tahun pemasaran 2025/2026, konsumsi kapas Indonesia diperkirakan mencapai 1,85 juta bale. Sementara impor diproyeksikan sekitar 1,92 juta bale.

Artinya, produksi kapas lokal hanya menyumbang bagian yang sangat kecil dari kebutuhan industri. Ketergantungan terhadap kapas impor menjadi konsekuensi dari minimnya areal tanam. Rendahnya daya tarik ekonomi bagi petani. Keterbatasan teknologi budidaya. Serta, belum kuatnya insentif pengembangan kapas.

Kementerian Pertanian sebelumnya juga mencatat produksi kapas nasional pada 2020 hanya sekitar 127 ton dari areal 703 hektare. Pemerintah kemudian terus mendorong pengembangan kapas. Karena Indonesia memiliki potensi lahan, tetapi realisasi produksinya masih jauh dari kebutuhan nasional.

Bagaimana dengan Kapas di Malang Raya?

Untuk Malang Raya yang meliputi Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu, kapas bukan komoditas perkebunan utama.

Statistik perkebunan Jawa Timur 2023 menunjukkan produksi kapas Jawa Timur hanya sekitar 21 ton dan berasal dari sejumlah wilayah di luar Malang Raya. Kabupaten Malang dan Kota Batu tidak tercatat sebagai sentra produksi kapas yang signifikan.

Data sektoral Kota Malang juga mencantumkan kapas dalam daftar komoditas perkebunan. Tetapi produksi kapas di wilayah kecamatan Kota Malang tercatat nol.

Dengan demikian, jika berbicara mengenai produksi kapas Malang Raya, belum terdapat basis produksi komersial yang berarti. Aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan tekstil di Malang lebih tepat dilihat dari sisi industri pengolahan, perdagangan dan produk turunannya, bukan sebagai sentra budidaya kapas.

Sumber: diolah dari indonesia.un.org dan berbagai sumber lainnya

Berita Terkait