2 tahun Disway Malang

HUT ke-81 TNI: Jejak Jenderal Soedirman di Hotel Astor hingga Makorem 083 Malang

HUT ke-81 TNI: Jejak Jenderal Soedirman di Hotel Astor hingga Makorem 083 Malang

Di Kota Malang, sejarah TNI bahkan tersimpan pada sebuah bangunan yang usianya lebih tua daripada Korem 083/Baladhika Jaya. -mymalangheritage--

MALANG, DISWAYMALANG.ID - HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026 bukan hanya momentum mengenang perjalanan Tentara Nasional Indonesia sejak 1945. Di Kota Malang, sejarah TNI bahkan tersimpan pada sebuah bangunan yang usianya lebih tua daripada Korem 083/Baladhika Jaya.

Bangunan di Jalan Bromo Nomor 17 yang kini menjadi Markas Korem 083/Baladhika Jaya itu dahulu dikenal sebagai Hotel Astor, salah satu hotel kelas satu di Malang pada masa Hindia Belanda.

Yang membuatnya semakin istimewa, Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah datang ke Hotel Astor pada 28 April 1946. Saat itu, Soedirman melakukan inspeksi terhadap pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) yang bertugas mengawal pemulangan tentara Jepang dari Jawa Timur.

Jejak kunjungan tersebut kini diabadikan melalui patung Jenderal Soedirman bertajuk “Aku Pernah di Sini” yang berdiri di lingkungan Makorem 083/Baladhika Jaya.

Awalnya Rumah Hunian di Bromostraat

Sejarah Hotel Astor bermula sebelum bangunan hotel berdiri.

Berdasarkan penelusuran sejarah Malang Heritage terhadap sejumlah arsip surat kabar kolonial, lahan di Bromostraat, nama Jalan Bromo pada masa Hindia Belanda, awalnya merupakan rumah hunian biasa.

Lahan tersebut kemudian dibeli Mr P.M. Dee pada 1929. Dee disebut sebagai seorang pensiunan perwira militer yang kemudian mengembangkan properti tersebut menjadi penginapan.

Pada 1930, Dee mendirikan Hotel Astor dengan konsep caravanserai, istilah yang pada masa itu digunakan untuk tempat penginapan bagi pelancong.

Catatan arsip Kota Malang juga mencatat Hotel Astor dibangun sekitar 1930 dalam perkembangan kawasan kota pada masa Bouwplan V.

Dari Penginapan Kecil Menjadi Hotel Kelas Satu

Hotel Astor ternyata berkembang pesat. Pelayanan yang baik dan fasilitas yang dianggap mumpuni membuat penginapan tersebut semakin dikenal.

Jumlah tamu yang meningkat mendorong Dee melakukan renovasi besar. Pekerjaan berlangsung sejak 1931 dan selesai pada akhir 1933.

Setelah renovasi, jumlah kamar bertambah menjadi 25 kamar. Hotel juga memiliki kantor manajemen dan ruang galeri untuk tamu. Kamar dibagi dalam kategori umum, VIP dan paviliun.

Sumber: diolah dari berbagai sumber