Seniman Batu Ubah Batik Jadi Kritik Lingkungan, Ada Pohon Apel yang Berguguran
Sugeng Pribadi atau Klemen bersama karyanya yang akan mengikuti pameran di Sidoarjo -Sholeh/Diswaymalang -
BATU, DISWAYMALANG.ID-Peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober 2026 dimaknai berbeda oleh perupa asal Kota Batu, Sugeng Pribadi. Jika batik selama ini identik dengan motif tradisional, dia justru mencoba mengimplementasikan batik sebagai media kritik terhadap kerusakan lingkungan di Kota Batu.
Karya tersebut rencananya akan ia pamerkan dalam sebuah pameran seni rupa di Rumah Budaya Sidoarjo pada 7 November 2026 mendatang.
Melalui karya batiknya, Klemen sapaan akrab Sugeng Pribadi, bercerita tentang transformasi Kota Batu. Dari yang dulunya sebuah desa yang sejuk, segar, dan subur, kini berubah menjadi kota yang padat.
BACA JUGA:Pemkot dan DPRD Batu Susun Perda 2027, Lingkungan Hidup Masuk Prioritas
"Dulu Batu itu masih desa, udaranya masih sejuk, segar. Tanaman subur, sungai sampai ke laut masih jernih. Setelah Batu menjadi kota, ada perubahan yang mau tidak mau pasti ada dampaknya," katanya, Jumat (2/9/2026).

--
Menurutnya dampak paling terasa adalah berkurangnya lahan pertanian produktif. Lahan yang dulu menjadi kebun apel dan sayur, kini beralih fungsi menjadi pemukiman dan perumahan.
Akibatnya, udara di Batu sudah tidak sedingin dulu. Perubahan suhu ini juga berdampak langsung pada ikon Kota Batu itu sendiri, yakni apel.
BACA JUGA:Kakek Penjual Es Krim di Batu Haru, Motor yang Dicuri Modus Pesanan Fiktif Kembali
"Apel yang dulunya menjadi ikon Batu, sekarang sudah mulai berkurang. Petaninya juga berkurang. Padahal konon apel itu bagus di udara yang dingin. Sekarang suhunya sudah berubah, jadi tidak begitu bagus lagi," jelas pria pemilik Galeri Red Soga di Kelurahan Temas Kota Batu itu.
Tidak hanya alih fungsi lahan, Klemen juga menyoroti rusaknya unsur hara tanah akibat penggunaan pestisida dan bahan kimia pertanian yang berlebihan. Kesuburan tanah perlahan menurun.
Keresahan itu kemudian ia tuangkan dalam motif batik. Dalam karyanya, terdapat visual pohon apel dengan buah dan daun yang berguguran. Di sekelilingnya, terdapat simbol rumah-rumah padat sebagai representasi ledakan pemukiman.
BACA JUGA:Akses TPS 3R Pesanggrahan Batu Sempit, DPUPR Siapkan Pelebaran Jalan 230 Meter
Ada pula gambar burung-burung yang beterbangan dalam keadaan kacau karena habitat hutannya hilang. Begitu juga dengan ikan-ikan di sungai yang digambarkan kebingungan akibat pencemaran air dari limbah pemukiman.
Sumber:


