Gus Baha Ungkap Cara Istighfar yang Benar: Jangan Cuma Ingat Dosa (1)
Ilustrai Gus Baha dalam sebuah pengajian. -nu.or.id--
MALANG, DISWAYMALANG.ID - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menjelaskan pentingnya memahami istighfar dengan cara yang tidak membuat seseorang lupa terhadap nikmat Allah. Menurutnya, orang yang terus mengingat dosa jangan sampai memiliki kesan bahwa Allah hanya mengingatkan manusia tentang kesalahan.
“Jadi kalau istighfar terus kan kesannya kenangannya Allah sama Anda ini bikin dosa. Astagfirullah, terus nangis, eling dosane, seakan-akan Allah bikin kenangan Anda ini hanya Anda diciptakan dosa,” ujar Gus Baha dalam sebuah pengajian. Disway Malang menurunkan tulisannya secara berseri. Berikut ini seri 1.
Gus Baha mengingatkan, manusia setiap hari juga menerima begitu banyak kebaikan dari Allah. “Anda salat subuh, Anda ngerumat istri, ngerumat keluarga Anda, tidak zina, tidak maling. Kenangan kebaikan Allah itu kan banyak. Tapi kamu hanya ngenang sisi kamu ditakdir apa? Dosa.”
Gus Baha mengatakan, mazhab Syadziliyah justru merupakan mazhab yang mengingkari cara berpikir seperti itu. Ia kemudian mengaitkannya dengan doa yang terdapat dalam Sayyidul Istighfar.
“Abu’u laka bi ni’matika ‘alayya." (aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, red).
Gus Baha menjelaskan bahwa hubungan seorang hamba dengan Allah selalu dilingkupi nikmat. “Bahwa saya ya Allah hubungan dengan Engkau itu selalu Engkau kasih nikmat.”
Ia kemudian memberikan contoh sederhana. Seseorang yang salat mungkin saja masih berpikir mengenai sah atau tidak sah menurut fikih. Namun dari sisi lain, ketika seseorang masih mau bersujud kepada Allah, hal itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang luar biasa.
“Wis sampeyan salat misale salah secara fikih, tapi cara malaikat delok wis seneng. Capek gelem sujud mesti wis bener,” tutur Gus Baha. (Sudah, Anda salat semisal salah secara fikih, namun malaikat melihat sudah senang. Kondisi badan capai mau sujud, itu mesti benar, red).
Tak Perlu Merasa Amal Tidak Sempurna
Menurut Gus Baha, manusia juga tidak perlu meremehkan dirinya hanya karena merasa amalnya tidak sempurna. Mau bersujud kepada Allah saja sudah menunjukkan sesuatu yang patut disyukuri.
Ia kemudian mengutip Kitab Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari yang menjadi salah satu rujukan dalam tradisi Syadziliyah. "Kafā min jazā’ika iyyāhu ‘ala ath-thā‘ati an ahlaka lahā."
Gus Baha memaknai kalimat tersebut bahwa cukup sebagai pahala bagi seseorang ketika ia ditakdirkan melakukan ketaatan. “Cukup sebagai pahala kamu melakukan taat adalah Anda ditakdir melakukan. Anda ditakdir apa? Melakukan.”
Karena itu, Gus Baha mengingatkan agar manusia tidak terjebak hanya pada persoalan sah dan tidak sah. Persoalan fikih tetap penting, tetapi ada sisi hakikat yang juga perlu dipahami.
“Problem fikih tadi itu terus berpikir sah tidak sah. Sah tidak sah itu masalah-masalah fikiah. Kalau masalah hakikat ketika kita ditakdir sujud itu sudah luar biasa,” urainya.
Sumber: youtube ngaji milenial


