2 tahun Disway Malang

G30S 1965 di Malang: Apa yang Terjadi setelah Gerakan 30 September Pecah di Jakarta?

G30S 1965 di Malang: Apa yang Terjadi setelah Gerakan 30 September Pecah di Jakarta?

Ilustrasi membawa bambu runcing dan senjata tajam, sekelompok orang tampak siap bertarung. Para pemuda ini tengah mengiringi pasukan Angkatan Darat di sekitar Gunung Merapi, Jawa Tengah, untuk mencari pemimpin PKI, D. A. Aidit, dan pengikutnya, 17 Novembe--

MALANG, DISWAYMALANG.ID - Ketika membicarakan Gerakan 30 September atau G30S 1965 di Malang, ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: peristiwa penculikan para perwira Angkatan Darat pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965 berlangsung di Jakarta, bukan di Malang.

Namun, kabar dan dampak politik G30S kemudian menjalar ke Jawa Timur, termasuk Malang. Dalam beberapa pekan setelah 30 September 1965, situasi politik dan keamanan di Malang berubah cepat.

Perubahan tersebut kemudian berkembang menjadi mobilisasi massa. Pembentukan struktur pengendalian keamanan. Penangkapan orang-orang yang dituduh terkait kelompok kiri. Hingga kekerasan yang berlangsung dalam rangkaian peristiwa 1965-1966.

Jejak perkembangan itu salah satunya dapat ditelusuri melalui arsip militer yang diteliti sejarawan Grace Tjandra Leksana atau Grace Leksana, pengajar Departemen Sejarah di Universitas Negeri Malang.

Grace Leksana Telusuri Arsip Korem 083 Malang

Grace Leksana juga merupakan Assistant Professor Sejarah Indonesia di Department of History and Art History Utrecht University. Bidang penelitiannya antara lain sejarah dan ingatan mengenai kekerasan di Indonesia.

BACA JUGA: Hari Sarjana Nasional 2026: Malang Kota Pendidikan, Setelah Sarjana Lulus Kerja di Mana?di-mana

Dalam artikel ilmiahnya berjudul Collaboration in Mass Violence: The Case of the Indonesian Anti-Leftist Mass Killings in 1965-66 in East Java yang diterbitkan dalam Journal of Genocide Research pada 2021, Leksana menggunakan berbagai arsip militer Jawa Timur.

Salah satu koleksi penting yang digunakan adalah arsip Komando Daerah Militer V/Brawijaya, termasuk dokumen yang berkaitan dengan Korem 083 Malang. Arsip tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan situasi di wilayah Malang setelah G30S.

Karena sumber tersebut merupakan arsip militer, Leksana juga membacanya sebagai dokumen yang dibuat dari perspektif institusi pada masa itu. Artinya, arsip tersebut penting sebagai sumber primer, tetapi tidak otomatis menjadi satu-satunya versi mengenai seluruh peristiwa.

Malang sebelum G30S Sudah Memiliki Ketegangan Politik

Untuk memahami perkembangan setelah September 1965, kondisi politik Malang sebelum G30S juga penting.

Malang merupakan salah satu wilayah Jawa Timur dengan aktivitas organisasi politik kiri yang kuat. Penelitian Grace Leksana mengenai Malang Selatan menunjukkan, misalnya, bahwa PKI memperoleh 164.159 suara di Kabupaten Malang dalam Pemilu 1955, berada di bawah NU dan PNI. Di Kecamatan Donomulyo, PKI bahkan tercatat memperoleh suara tertinggi dengan 12.981 suara.

Namun, kuatnya organisasi kiri di suatu wilayah tidak berarti seluruh masyarakatnya memiliki sikap politik yang sama. Malang juga memiliki organisasi dan kelompok politik dengan orientasi berbeda.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Berita Terkait