2 tahun Disway Malang

Audit ISO 31000 UB Dimulai, Manajemen Risiko Dievaluasi hingga Sistem Digital SEMAR

Audit ISO 31000 UB Dimulai, Manajemen Risiko Dievaluasi hingga Sistem Digital SEMAR

Dosen Fakultas Hukum UB, Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, S.H., M.Hum., saat memberikan informasi terkait dengan audit manajemen risiko berbasis ISO 31000:2018. --

LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID — Universitas Brawijaya (UB) mulai menjalani audit manajemen risiko berbasis ISO 31000:2018. Audit diawali melalui entry meeting pada Rabu (23/9/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga 7 Oktober 2026.

Audit tersebut menjadi evaluasi eksternal terhadap sistem manajemen risiko yang telah dikembangkan UB sejak 2024. Penilaian tidak hanya menyasar kelengkapan dokumen, tetapi juga penerapan, regulasi, budaya sadar risiko hingga sistem digital pengelolaan risiko di lingkungan universitas.

Dosen Fakultas Hukum UB Dr Ngesti Dwi Prasetyo SH MHum mengatakan audit dilakukan untuk melihat sejauh mana manajemen risiko yang telah dibangun berjalan secara menyeluruh, terintegrasi, dan berkelanjutan.

“ISO 31000 versi 2018 ini sebenarnya memperkuat komitmen UB terhadap upaya penerapan proses manajemen risiko yang secara menyeluruh, terintegrasi, dan berkelanjutan,” kata Ngesti, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, hasil audit nantinya diharapkan dapat menemukan celah maupun proses yang masih perlu diperbaiki. Temuan auditor akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan regulasi, pedoman, hingga sistem pengelolaan risiko.

“Harapannya kita audit apakah kemudian ada celah yang harus kita perbaiki, apakah kemudian ada proses yang perlu kita perbaiki, ataukah kemudian ada hasil evaluasi itu yang kemudian kita perbaiki. Arahnya memang ke sana,” ujarnya.

BACA JUGA: All-New Pajero Resmi Bangkit, Mesin 2.4L 204 HP dan Teknologi Off-Road Makin Canggih

Penerapan manajemen risiko di UB mulai dikembangkan sejak 2024 dan kemudian diperkuat melalui pembangunan budaya sadar risiko serta transformasi digital.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah SEMAR (Sistem Elektronik Manajemen Risiko). Sistem tersebut digunakan untuk mendukung proses identifikasi, pengelolaan, pemantauan, dan evaluasi risiko secara lebih terintegrasi.

Ngesti mengatakan digitalisasi menjadi bagian dari penguatan manajemen risiko UB, terutama sejak 2025. “Jadi sebenarnya di tahun 2025 itu menjadi titik transformasi digital dari proses penerapan manajemen risiko,” katanya.

Selain sistem digital, UB juga mendorong penerapan budaya sadar risiko di seluruh unit kerja. Manajemen risiko diarahkan tidak hanya menjadi pemenuhan administratif, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan tata kelola sehari-hari.

BACA JUGA:20 Soal AKGTK Madrasah 2026 Akidah Akhlak, Lengkap dengan Kunci Jawaban

“Yang kedua adalah dengan perbaikan budaya sadar risiko. Ini sudah kita implementasikan di seluruh unit kerja, di seluruh Universitas Brawijaya,” ujar Ngesti.

Sumber:

Berita Terkait