2 tahun Disway Malang

Sampah Liar Kota Batu Bikin Petugas Mual, 60 Persen Berupa Pasir Kotoran Kucing

Sampah Liar Kota Batu Bikin Petugas Mual, 60 Persen Berupa Pasir Kotoran Kucing

Petugas kebersihan saat bersihkan jalan Sahar-panca rp-

BATU, DISWAYMALANG.ID—Tumpukan sampah liar di sejumlah titik Kota Batu menyimpan persoalan yang tidak biasa. Dalam aksi pembersihan di kawasan Jalan Sahar, petugas menemukan sebagian besar timbunan justru berupa pasir bekas kotoran kucing.

Koordinator Sampah Kota Batu Eko Rudi Prasetyo mengatakan temuan tersebut cukup dominan dalam kegiatan kerja bakti. Bahkan, material yang bercampur dengan kotoran dan urine kucing itu menimbulkan bau menyengat ketika diangkut petugas dan relawan.

"Sampah yang kami bersihkan dalam kerja bakti sekitar 50 hingga 60 persen merupakan pasir bekas kotoran kucing. Baunya sangat menyengat, bahkan membuat banyak petugas dan relawan di lapangan merasa mual saat mengangkutnya," ujar Eko Rudi Prasetyo saat ditemui Selasa, 22 September 2026

​Kawasan Jalan Sahar menjadi salah satu sasaran empuk pembuangan sampah ilegal karena statusnya sebagai lahan kosong yang belum masuk dalam zona penyapuan rutin petugas kebersihan. Kondisi jalanan yang sepi kerap dimanfaatkan oknum masyarakat maupun pengguna jalan untuk melempar bungkus limbah tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan sekitar.

​Modus Pembuangan: Dari Kantong Plastik hingga Karung 25 Kg

​Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, aksi pembuangan limbah kotoran hewan peliharaan ini dilakukan dalam berbagai modus dan skala. Selain dibuang secara eceran menggunakan kantong plastik kresek kecil oleh pengendara sepeda motor, petugas juga menemukan pembuangan dalam jumlah besar menggunakan karung plastik ukuran 25 kilogram.

​Hal ini mengindikasikan bahwa pembuangan limbah kotoran tidak hanya berasal dari pemelihara kucing rumahan, tetapi juga dari tempat penangkaran, peternakan, atau komunitas pecinta kucing hias skala menengah hingga besar.

​Komitmen Menjaga Lingkungan dan HUT Kota Batu ke-25

​Aksi pembersihan dan penertiban pembuangan sampah liar ini diselaraskan dengan momentum peringatan Hari Jadi Kota Batu yang ke-25. Pemerintah daerah beserta jajaran pengelola kebersihan mengusung pesan moral penting agar seluruh elemen masyarakat berkarya tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.

​"Arah dan tujuannya sangat jelas. Tema ulang tahun Kota Batu yang ke-25 mengajak kita semua: 'Berkaryalah sekarya setinggi langit, tapi jangan korbankan alam.' Salah satu bentuk nyata menjaga alam adalah dengan memastikan kebersihan lingkungan dari pencemaran limbah," tegas Eko.

​Pihaknya juga telah memasang sejumlah spanduk dan banner imbauan di titik-titik rawan pembuangan sampah liar. Eko menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk menakut-nakuti warga, melainkan sebagai bentuk edukasi dan ajakan persuasif.

​Dampak Pada Sektor Pariwisata dan Pendapatan Daerah (PAD)

​Sebagai destinasi wisata utama di Jawa Timur, keberadaan sampah berbau menyengat di jalanan umum dipastikan akan mengganggu kenyamanan wisatawan. Eko Rudi menegaskan bahwa tingkat kebersihan lingkungan berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

​Jika lingkungan Kota Batu tetap bersih, asri, dan bebas bau tak sedap, kenyamanan wisatawan akan meningkat. Tingginya angka kunjungan wisatawan secara otomatis akan mendorong pendapatan di sektor pariwisata yang berkontribusi langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

​"PAD itu nantinya bergulir dan digunakan kembali untuk membiayai proses pembangunan infrastruktur serta fasilitas publik di wilayah Kota Batu. Jadi dari warga, dampaknya kembali ke warga sendiri," jelasnya.

​Solusi Berkelanjutan: Pengolahan Limbah Kotoran Kucing Menjadi Kompos

​Menanggapi persoalan limbah spesifik ini, Eko Rudi mengimbau para pemilik hewan peliharaan, peternak, hingga paguyuban pecinta kucing untuk duduk bersama dengan pemerintah daerah guna merumuskan solusi jangka panjang.

​Salah satu gagasan konkret yang didorong adalah penyediaan lahan khusus pemendaman dan pengolahan limbah kotoran hewan oleh pemerintah desa, kelurahan, maupun dinas terkait. Pasir dan kotoran kucing tersebut dapat diolah melalui teknik fermentasi untuk diubah menjadi pupuk organik atau kompos.

​Melalui proses fermentasi selama satu hingga dua bulan, bau menyengat dari tinja dan kencing kucing akan terurai dan hilang. Hasil pengolahan berupa pupuk kompos tersebut nantinya dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam bunga dan tanaman hias di Kota Batu.

​"Pasir memang tetap menjadi pasir, tetapi dengan proses fermentasi dan penguraian yang benar, baunya akan hilang dan bisa menjadi kompos yang bermanfaat untuk kembali ke alam. Kita butuh solusi baru ini karena limbah kotoran kucing mendominasi di lapangan," ungkapnya.

​Imbauan Kepada Masyarakat Luas

​Di akhir wawancara, Eko Rudi Prasetyo mengimbau seluruh lapisan masyarakat—baik warga Kota Batu maupun wisatawan—untuk meningkatkan kesadaran dalam mengelola sampah.

​"Marilah kita membuang sampah pada tempatnya. Jangan asal melempar sampah dari dalam mobil atau sepeda motor ke tepi jalan, area kosong, atau gang-gang sepi. Mari kita jaga keindahan dan kenyamanan Kota Batu bersama-sama," tutupnya.

Sumber:

Berita Terkait