Perajin Lampion Kota Batu Mulai Banjir Pesanan Natal, Sinterklas hingga Rusa Digarap
Alex berkaos putih saat mengawasi pekerjaan pembuatan rusa penarik kereta Sinterklas-panca rp-
BATU, DISWAYMALANG.ID—Suasana Natal mulai terasa di balik aktivitas para perajin lampion Kota Batu. Meski perayaan Natal masih sekitar tiga bulan lagi, sejumlah pekerja seni di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, sudah mulai menyelesaikan berbagai pesanan dekorasi.
Figur Sinterklas menjadi salah satu karya yang banyak dipesan. Tidak berdiri sendiri, karakter tersebut dibuat lengkap dengan rusa dan kereta sehingga membutuhkan proses pengerjaan yang cukup panjang dan detail.
Bagi perajin lampion Kota Batu, mengerjakan dekorasi jauh sebelum hari perayaan bukan sekadar mengejar jumlah pesanan. Waktu produksi yang panjang dibutuhkan agar bentuk, proporsi, konstruksi hingga pencahayaan dapat dikerjakan secara maksimal.
BACA JUGA:30 Contoh Soal AKGTK Madrasah 2026 Guru MI dan Jawabannya, Lengkap untuk Latihan
Alex, salah satu perajin lampion asal Punten, mengungkapkan bahwa ritme kerja jauh-jauh hari ini sengaja diambil demi menjaga mutu karya. Menurutnya, karya seni instalasi tidak bisa digarap secara tergesa-gesa.
"Ya, saat ini kami sudah mulai menyelesaikan pesanan untuk Natalan, seperti figur Sinterklas, rusa, dan keretanya," ujar Alex di sela-sela aktivitas produksinya, Senin (21/9). "Bagi pekerja seni, durasi pengerjaan yang cukup sangat menentukan hasil akhir. Kalau waktunya terlalu mepet, detailnya pasti kurang sempurna," katanya, Senin (21/9/2026).
BACA JUGA:KM Virgo Transport 8: 10 Korban Meninggal, 125 Belum Ditemukan, Santunan Rp70 Juta
Kerumitan Bahan dan Ketelitian 'Mal' Pertama
Berbeda dengan dekorasi instan berbahan dasar gabus (styrofoam), lampion buatan Alex dan timnya mengusung konsep seni instalasi yang tangguh dan tahan lama. Mereka mengombinasikan kerangka besi, balutan kain khusus, serta instalasi pencahayaan lampu di dalamnya.
Proses yang paling menyedot waktu dan konsentrasi berada pada tahap awal, yakni pembuatan mal atau cetakan dasar kerangka besi.
BACA JUGA:Pramono Anung Bertemu Zohran Mamdani, 5 Isu Jakarta-New York Jadi Pembahasan
"Produksi kami memerlukan waktu yang lumayan karena bahannya besi, kain, dan lampu. Di sini kami membuat mal atau proporsi bentuknya terlebih dahulu, dan itu butuh ketelitian tinggi. Ukuran pada mal pertama harus benar-benar presisi agar bentuk objeknya terlihat riil dan proporsional. Nanti kalau mal utamanya sudah jadi, proses reproduksi berikutnya baru bisa lebih cepat," jelasnya.
Momen Keagamaan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Kreatif
Bagi Alex dan komunitas perajin lampion di Kota Batu, perayaan hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Natal, hingga peringatan hari nasional, merupakan 'musim panen' yang amat disyukuri. Momentum ini tidak hanya menguji kreativitas mereka, tetapi juga menjadi penopang roda ekonomi keluarga.
Tak hanya mengandalkan hari besar keagamaan, pundi-pundi rezeki para pekerja seni ini juga terus mengalir dari pesanan khusus luar musim (off-season), seperti acara lembaga pemerintah, korporasi, hingga destinasi wisata.
BACA JUGA:Nyali John Herdman Ubah Wajah Timnas Indonesia, 14 Nama Tak Lagi Ada
"Jujur saja, adanya momen keagamaan atau hari nasional membuat kami bisa mengais rejeki lebih. Namun di luar itu, kami juga tetap melayani pesanan dari berbagai instansi maupun lembaga untuk acara-acara khusus," pungkas Alex optimis.
Lewat sentuhan jemari terampil para perajin di Kota Batu, pendar cahaya lampion tak hanya menerangi perayaan hari besar, tetapi juga terus menyalakan asa dan kesejahteraan para pekerja seni lokal.
Sumber:

