2 tahun Disway Malang

Rupiah Tertekan ke Rp17.753 usai The Fed Naikkan Suku Bunga, Dolar AS Menguat

Rupiah Tertekan ke Rp17.753 usai The Fed Naikkan Suku Bunga, Dolar AS Menguat

Penguatan lebih dari 2 persen ini dipicu membaiknya sentimen pasar global setelah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mengambil sikap yang lebih lunak terhadap kebijakan suku bunga.-Disway.id/Bianca Khairunnisa---

JAKARTA, DISWAYMALANG.IDNilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis 17 September 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.753 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung ketika pasar global merespons keputusan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap arah aliran modal dan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pasar masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Selain kebijakan moneter Amerika Serikat, perkembangan geopolitik serta persiapan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar.

The Fed Naikkan Suku Bunga

Federal Open Market Committee atau FOMC memutuskan menaikkan suku bunga federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75 persen hingga 4 persen. Keputusan tersebut disetujui secara bulat oleh 12 anggota pemungutan suara FOMC.

Kenaikan ini menjadi yang pertama dilakukan The Fed sejak Juli 2023. Bank sentral Amerika Serikat mengambil langkah tersebut di tengah inflasi yang masih berada di atas sasaran jangka panjang sebesar 2 persen.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi. Inflasi, pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta perkembangan harga energi menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan arah suku bunga berikutnya.

Kebijakan tersebut berpotensi menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Namun, pergerakan dolar tetap dipengaruhi respons pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi, imbal hasil obligasi, dan kondisi geopolitik.

Sentimen Global Masih Berubah

Dari sisi global, pasar mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk komunikasi antara Amerika Serikat dan kelompok Houthi di Yaman. Berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan jalur pelayaran dapat membantu meredakan tekanan pada pasar energi dan aset keuangan.

Meski demikian, ketidakpastian belum sepenuhnya hilang. Perselisihan terkait keamanan jalur strategis Selat Hormuz serta potensi gangguan pasokan energi masih menjadi risiko yang dapat memicu perubahan cepat pada sentimen investor.

Kondisi tersebut membuat pasar valuta asing bergerak fluktuatif. Investor cenderung menyesuaikan portofolio berdasarkan perkembangan geopolitik, kebijakan suku bunga, serta prospek ekonomi masing-masing negara.

Ruang BI Menjaga Rupiah

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22–23 September 2026. Ibrahim menilai BI memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa harus terburu-buru mengubah arah kebijakan suku bunga.

Sebelumnya, BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam RDG Agustus 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Selain suku bunga, BI dapat memanfaatkan intervensi pasar valuta asing, penguatan operasi moneter, serta kebijakan pendalaman pasar uang dan pasar valas untuk meredam gejolak rupiah.

Faktor domestik lain yang diperhatikan pasar meliputi kondisi fiskal, konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, ekspor, dan arus modal asing. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menentukan seberapa besar tekanan eksternal dapat diserap perekonomian Indonesia.

Rupiah Diproyeksi Fluktuatif

Sumber: harian disway dan sumber lainnya

Berita Terkait