Jawa Timur Masuk Wilayah Paling Kering, Hari Tanpa Hujan Tembus 129 Hari
Kekeringan melanda 17 provinsi di Indonesia termasuk Jawa Timur. -Ilustrasi: AI--
JAKARTA, DISWAYMALANG.ID–Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem di tengah kemarau panjang yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menunjukkan sebagian besar wilayah Jawa Timur mengalami hari tanpa hujan dalam durasi lebih dari 60 hari.
Kondisi paling panjang tercatat mencapai 129 hari tanpa hujan. Catatan tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu provinsi yang perlu mendapat perhatian dalam menghadapi dampak kemarau, terutama terkait ketersediaan air, pertanian, dan potensi kebakaran hutan serta lahan.
Berdasarkan pemantauan hingga 10 September 2026, wilayah Jawa Timur pada umumnya berada dalam kategori kekeringan ekstrem. Sejumlah daerah bahkan mencatat hari tanpa hujan lebih dari 100 hari.
Jawa Timur Alami Kekeringan Ekstrem
Catatan hari tanpa hujan terpanjang di Jawa Timur mencapai 129 hari. Durasi tersebut menunjukkan bahwa sejumlah wilayah telah mengalami periode kering yang cukup panjang tanpa jeda hujan berarti.
Selain Jawa Timur, kekeringan ekstrem juga terpantau di sejumlah provinsi lain, terutama wilayah Indonesia bagian selatan. Daerah yang mengalami kemarau panjang meliputi sebagian Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Maluku, hingga Papua Selatan.
Kondisi ini tidak berarti seluruh wilayah dalam satu provinsi mengalami durasi hari tanpa hujan yang sama. Lama kekeringan dapat berbeda antara satu kabupaten, kecamatan, maupun titik pengamatan, bergantung pada kondisi lokal dan distribusi hujan.
BMKG juga memprakirakan curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur pada periode 11–20 September 2026 masih berada dalam kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter.
El Niño Perkuat Kondisi Atmosfer Kering
Kemarau panjang tersebut berlangsung bersamaan dengan pengaruh El Niño yang berada pada kategori sangat kuat. Pemantauan dinamika atmosfer dan laut menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai sekitar plus 2,76 derajat Celsius pada dasarian pertama September 2026.
Fenomena tersebut berkontribusi terhadap kondisi atmosfer yang lebih kering dan berkurangnya peluang hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, hujan lokal tetap dapat terjadi di beberapa daerah karena kondisi cuaca dipengaruhi banyak faktor, termasuk pertumbuhan awan, angin, dan kondisi topografi.
Atmosfer yang kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar, sementara api dapat bertahan lebih lama ketika angin dan kondisi lahan mendukung.
Ancaman terhadap Air dan Pertanian
Kekeringan ekstrem berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih, terutama di wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan, mata air, maupun sumur dangkal.
Sektor pertanian juga perlu mewaspadai berkurangnya pasokan air untuk irigasi. Jika kondisi kering berlangsung terlalu lama, tanaman dapat mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, bahkan gagal panen pada lahan yang tidak memiliki cadangan air memadai.
Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak, memantau informasi cuaca dan iklim, serta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat kemarau panjang. Pemerintah daerah juga perlu menyesuaikan langkah penanganan dengan kondisi wilayah masing-masing, termasuk memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan dasar masyarakat.
Di sisi lain, warga di wilayah rawan kebakaran diimbau tidak melakukan pembakaran lahan atau membuang puntung rokok sembarangan. Kondisi vegetasi yang kering dapat membuat api cepat menyebar dan menyulitkan proses pemadaman.
Sumber: harian disway dan sumber lain

