2 tahun Disway Malang

Thrifting di Pasar Comboran Malang Bergeser, Sepatu Bekas Kini Lebih Diburu daripada Jaket

Thrifting di Pasar Comboran Malang Bergeser, Sepatu Bekas Kini Lebih Diburu daripada Jaket

Pedagang Pasar Loak Comboran Tengah Menjajakan Sepatu Bekas--Fairuz Ainur

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Tren belanja barang bekas di Pasar Loak Comboran, Kota Malang, mulai berubah. Jika sebelumnya pakaian dan jaket bekas menjadi barang yang paling banyak dicari, kini sepatu casual dan sport justru lebih sering diburu pembeli.

Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh pedagang yang telah lama berjualan di kawasan Comboran. Erwin, pedagang yang mulai berjualan sejak 2007, mengatakan minat pembeli terhadap jaket dan pakaian bekas cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir.

“Sekarang lebih banyak yang cari sepatu. Kalau jaket atau baju sudah mulai turun,” ujar Erwin, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, pembeli sepatu bekas kini banyak berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka umumnya datang pada akhir pekan untuk mencari sepatu bermerek dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan produk baru.

Sepatu Bermerek Jadi Incaran

Pedagang lainnya, Arba’i, menyebut sejumlah merek populer seperti Converse, Nike, dan Adidas menjadi incaran anak muda. Harga sepatu bergantung pada merek, kondisi fisik, model, dan tingkat kelangkaannya.

Sepatu dengan kondisi yang masih sangat baik, bahkan mencapai sekitar 90 persen, dapat ditawarkan dengan harga sekitar Rp300 ribu. Sementara itu, sepatu dengan kondisi atau merek berbeda bisa ditemukan mulai dari puluhan ribu rupiah.

Bagi pembeli, thrifting tidak hanya menjadi cara mendapatkan barang dengan harga murah. Aktivitas tersebut juga berkaitan dengan pencarian model tertentu, merek yang sudah tidak mudah ditemukan, serta keinginan memiliki produk yang berbeda dari barang yang beredar di pasaran.

Meski demikian, kondisi barang bekas tetap perlu diperiksa secara teliti. Pembeli biasanya perlu memperhatikan sol, jahitan, bagian dalam sepatu, kondisi lem, serta keaslian produk sebelum melakukan transaksi.

Omzet Pedagang Belum Pulih

Meningkatnya minat terhadap sepatu bekas belum otomatis membuat pendapatan pedagang kembali seperti sebelum pandemi. Erwin menyebut omzet rata-rata pedagang saat ini masih berada di bawah Rp2 juta per bulan.

Jumlah tersebut berbeda dengan kondisi sebelum pandemi ketika pedagang dapat memperoleh omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Saat ini, pendapatan harian cenderung tidak menentu dan sangat bergantung pada jumlah pembeli serta barang yang tersedia.

Kondisi serupa juga dirasakan Samuji, pedagang sepatu bekas yang telah berjualan sejak era 1980-an. Ia mengatakan permintaan terhadap sepatu bermerek memang masih ada, tetapi stok barang yang sesuai dengan selera pembeli semakin sulit diperoleh.

“Kadang-kadang bisa laku sampai empat pasang, tetapi kadang tidak ada yang terjual sama sekali,” kata Samuji.

Sulit Mendapatkan Stok Berkualitas

Persoalan stok menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang sepatu bekas. Barang yang memiliki merek populer, model menarik, dan kondisi baik biasanya lebih cepat dicari pembeli.

Namun, pasokan barang semacam itu tidak selalu tersedia secara rutin. Pedagang harus mencari barang dari berbagai jalur dan menyesuaikan pembelian dengan kemampuan modal.

Sumber: