2 tahun Disway Malang

Hari Cokelat Internasional 13 September 2026, Menelusuri Sejarah dan Industri Cokelat di Malang Raya

Hari Cokelat Internasional 13 September 2026, Menelusuri Sejarah dan Industri Cokelat di Malang Raya

Hari Cokelat Internasional 13 September 2026. -magnific--

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Hari Cokelat Internasional diperingati setiap 13 September. Momen ini bukan hanya menjadi kesempatan untuk menikmati cokelat dalam berbagai bentuk, tetapi juga untuk menelusuri perjalanan panjang kakao dari tanaman, hasil perkebunan, proses pengolahan, hingga menjadi produk makanan dan minuman yang digemari masyarakat.

Di Malang Raya, yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, cokelat berkembang dalam beragam bentuk. Selain dijual sebagai camilan dan oleh-oleh, cokelat juga hadir melalui kafe, toko khusus, industri rumahan, produk premium, kegiatan edukasi, hingga wisata yang mengajak pengunjung mengenal proses pengolahan kakao.

Meski belum tersedia angka resmi mengenai jumlah penggemar cokelat di Malang Raya, geliat usaha dan aktivitas berbasis cokelat menunjukkan bahwa produk ini memiliki pasar yang luas. Konsumen tidak hanya mencari cokelat batangan, tetapi juga minuman cokelat, dessert, praline, cookies, cokelat berbahan buah lokal, hingga produk kakao dengan kadar kemurnian tinggi.

Sejarah Hari Cokelat Internasional

Hari Cokelat Internasional umumnya diperingati setiap 13 September. Tanggal tersebut sering dikaitkan dengan hari lahir Milton S Hershey, tokoh industri cokelat asal Amerika Serikat yang mendirikan Hershey Chocolate Company.

Namun, Hari Cokelat Internasional tidak sama dengan satu-satunya peringatan cokelat di dunia. Sejumlah negara dan komunitas juga memiliki hari cokelat dengan tanggal serta latar belakang berbeda. Karena itu, 13 September lebih tepat dipahami sebagai momentum populer untuk merayakan cokelat secara global.

Sejarah cokelat jauh lebih tua daripada industri modern. Kakao telah dimanfaatkan masyarakat Mesoamerika, terutama di wilayah yang kini menjadi Meksiko, sejak ribuan tahun lalu. Suku Olmek, Maya, dan Aztek mengenal kakao sebagai bahan minuman, bagian dari ritual, serta komoditas bernilai tinggi.

Pada masa itu, cokelat belum dikonsumsi seperti sekarang. Biji kakao umumnya diolah menjadi minuman bercita rasa pahit dan dapat dicampur rempah-rempah. Kakao juga memiliki nilai ekonomi dan sosial penting. Dalam kebudayaan Aztek, biji kakao bahkan pernah digunakan sebagai alat tukar.

Cokelat kemudian dikenal di Eropa setelah kakao dibawa dari kawasan Amerika pada abad ke-16. Pada tahap awal, cokelat merupakan minuman mahal yang hanya dapat dinikmati kelompok elite. Proses pengolahan yang panjang membuat harga cokelat relatif tinggi.

Perkembangan teknologi mengubah keadaan tersebut. Pada abad ke-19, penemuan mesin pengepres kakao membantu memisahkan lemak kakao dari padatan kakao sehingga bubuk kakao lebih mudah diproduksi. Teknologi pengolahan berikutnya membuat cokelat batangan, cokelat susu, permen, kue, dan berbagai produk modern dapat diproduksi secara massal.

Kakao dan Cokelat di Indonesia

Kakao masuk ke wilayah Indonesia pada masa perdagangan global dan kemudian dikembangkan secara lebih luas pada masa kolonial. Tanaman kakao tumbuh di sejumlah daerah beriklim tropis, termasuk Sulawesi, Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa.

Indonesia tidak hanya memiliki perkebunan kakao, tetapi juga semakin banyak mengembangkan industri pengolahan. Biji kakao kini dapat diolah menjadi biji fermentasi, bubuk kakao, pasta kakao, lemak kakao, cokelat couverture, minuman kakao, teh kakao, hingga produk cokelat siap konsumsi.

Tantangan terbesar industri kakao bukan sekadar menghasilkan biji, melainkan meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan. Biji kakao yang dijual sebagai bahan mentah memiliki nilai ekonomi berbeda dengan kakao yang telah difermentasi, disangrai, diolah, dikemas, dan dipasarkan sebagai produk premium.

Industri Cokelat Mulai Tumbuh di Malang Raya

Kabupaten Malang memiliki wilayah perkebunan yang mendukung pengembangan kakao. Data perkebunan daerah menunjukkan tanaman kakao antara lain terdapat di sejumlah kecamatan, termasuk Donomulyo, Kalipare, Pagak, dan Bantur.

Selain kegiatan budidaya, pengolahan kakao juga mulai berkembang di tingkat pelaku usaha lokal. Salah satu contohnya berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, melalui usaha Finestco Kedai Seduh Kakao.

Sumber: national today dan sumber lainnya