2 tahun Disway Malang

Mendaki Gunung di Malang Saat Cuaca Dingin, Ini Cara Cegah Hipotermia

Mendaki Gunung di Malang Saat Cuaca Dingin, Ini Cara Cegah Hipotermia

Ilustrasi mendaki gunung-ist-Gambar AI

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Cuaca di kawasan pegunungan Malang dan sekitarnya perlu menjadi perhatian pendaki memasuki September. Suhu di ketinggian dapat jauh lebih rendah dibanding wilayah permukiman, sementara kabut, angin, pakaian yang basah karena embun atau hujan, hingga perubahan cuaca mendadak dapat meningkatkan risiko kehilangan panas tubuh.

Prakiraan cuaca 10 September 2026 menunjukkan kawasan Bromo berada pada kisaran suhu 12–18 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi. Di kawasan kawah Semeru, suhu diprakirakan sekitar 14–18 derajat Celsius. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa perlengkapan untuk menghadapi dingin dan kelembapan tetap penting, terutama bagi pendaki yang berada di jalur sejak dini hari atau bermalam di ketinggian.

Hipotermia tidak hanya terjadi ketika suhu udara berada di titik yang sangat rendah. Tubuh juga dapat kehilangan panas dengan cepat ketika pakaian basah, terkena angin, berkeringat berlebihan, atau berada terlalu lama dalam kondisi dingin. Karena itu, kesiapan pakaian, perlengkapan navigasi, makanan, serta kemampuan mengambil keputusan saat kondisi memburuk menjadi bagian penting dari keselamatan pendakian.

Terapkan Sistem Pakaian Berlapis

Sistem tiga lapis dapat membantu pendaki mengatur suhu tubuh sesuai kondisi di jalur.

Lapis pertama atau base layer berfungsi mengelola keringat agar kulit tidak terus-menerus lembap. Bahan sintetis atau wol dapat menjadi pilihan, sedangkan pakaian berbahan katun kurang cocok untuk kondisi dingin dan basah karena menyerap serta menahan kelembapan.

Lapis kedua berfungsi sebagai insulasi untuk mempertahankan panas tubuh. Fleece, wol, atau jaket berinsulasi dapat digunakan sesuai suhu dan aktivitas.

Sementara itu, lapisan terluar berfungsi melindungi tubuh dari angin dan air. Jaket yang tahan angin serta memiliki perlindungan terhadap hujan akan membantu mengurangi kehilangan panas. Lapisan pakaian sebaiknya dapat ditambah atau dikurangi selama perjalanan agar pendaki tidak terlalu berkeringat.

Perlengkapan tambahan seperti kupluk, sarung tangan, kaus kaki cadangan dan pakaian kering juga penting. Pakaian basah sebaiknya segera diganti karena kondisi lembap mempercepat kehilangan panas tubuh.

Jangan Hanya Mengandalkan GPS Ponsel

Kabut tebal dapat membuat pendaki kehilangan orientasi, terutama ketika tanda jalur sulit terlihat. Karena itu, navigasi sebaiknya tidak hanya mengandalkan telepon seluler.

Kompas, peta jalur dan GPS offline dapat digunakan secara bersamaan. pendaki juga perlu mengetahui jalur yang akan dilalui sebelum berangkat, termasuk titik persimpangan, sumber air, lokasi berkemah dan jalur evakuasi jika informasi tersebut tersedia.

Baterai perangkat elektronik juga perlu diperhatikan. Suhu dingin dapat menurunkan performa baterai sehingga ponsel dan power bank sebaiknya dilindungi dari paparan dingin berlebihan dan disimpan di tempat yang aman serta tidak mudah basah.

Headlamp dengan baterai cadangan, peluit, perlengkapan pertolongan pertama dan selimut darurat juga sebaiknya berada di tempat yang mudah dijangkau, bukan tertimbun di dasar carrier.

Kabut Makin Tebal, Jangan Memaksakan Perjalanan

Ketika kabut membuat jalur sulit dikenali, pendaki perlu memperlambat perjalanan dan memastikan seluruh anggota kelompok tetap bersama. Jangan mengambil jalur baru hanya karena jalur utama sulit terlihat.

Penunjukan seorang anggota sebagai sweeper juga membantu memastikan tidak ada pendaki yang tertinggal. Kelompok perlu melakukan komunikasi secara berkala, terutama di jalur yang bercabang atau ketika jarak pandang menurun.

Jika kondisi semakin buruk dan jalur tidak lagi dapat dikenali dengan aman, keputusan untuk berhenti atau berbalik arah lebih penting daripada memaksakan target puncak. Carilah lokasi yang relatif terlindung dari angin dan tetap aman dari potensi longsoran, pohon tumbang atau bahaya medan lainnya.

Kenali Tanda-Tanda Hipotermia

pendaki harus segera waspada ketika mulai mengalami menggigil hebat, kelelahan, tangan sulit digunakan dengan baik, gerakan tidak terkoordinasi, kebingungan, bicara pelo atau mengantuk secara tidak wajar. Gejala tersebut dapat menjadi tanda tubuh mulai kehilangan kemampuan mempertahankan suhu normal.

Jika dicurigai mengalami Hipotermia, korban harus segera dijauhkan dari paparan dingin dan angin. Pakaian basah perlu dilepas dan diganti dengan pakaian kering, kemudian tubuh dihangatkan secara bertahap sambil mencari pertolongan medis.

Jangan memberikan minuman beralkohol kepada korban. Jika korban masih sadar dan mampu menelan, minuman hangat dapat diberikan sambil proses pertolongan dilakukan.

Cek Cuaca Sebelum Berangkat

keselamatan pendakian dimulai sebelum kaki menginjak jalur. pendaki perlu mengecek prakiraan cuaca terbaru, kondisi jalur, status pembukaan pendakian serta potensi bahaya di kawasan yang akan dituju.

Untuk kondisi 10 September 2026, prakiraan nasional menunjukkan Jawa Timur tidak masuk daftar angin kencang pada halaman peringatan tiga harian yang diperbarui, meskipun prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer.

Di sisi lain, prakiraan sepekan menunjukkan Jawa Timur kembali masuk wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang pada periode 11–14 September 2026. Artinya, pendaki tetap perlu mengecek pembaruan cuaca sebelum perjalanan, terutama jika pendakian dilakukan pada hari-hari berikutnya.

Cuaca cerah di titik keberangkatan juga bukan jaminan kondisi di ketinggian akan sama. Dengan perlengkapan yang sesuai, navigasi yang memadai dan keberanian untuk membatalkan perjalanan ketika kondisi tidak aman, risiko pendakian dapat ditekan sehingga perjalanan ke pegunungan tetap berakhir dengan selamat.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Berita Terkait