2 tahun Disway Malang

Cuma Modal Rp620 Ribu, Degan Jelly Ini Dipasarkan ke Kafe hingga Resto Malang

Cuma Modal Rp620 Ribu, Degan Jelly Ini Dipasarkan ke Kafe hingga Resto Malang

Ahmad Fatkhul salah satu pengelola bisnis Degan Jelly yang berada di Dau, Kabupaten Malang--Fairuz Ainur

DAU, DISWAYMALANG.ID-- Persaingan bisnis minuman kekinian di Malang tidak menyurutkan langkah Ahmad Fatkhul dan Muhammad Farel. Ketika kopi susu dan es teh mendominasi pasar, dua anak muda ini justru memilih bisnis degan jelly sebagai peluang usaha.

Pilihan tersebut berawal dari kejenuhan terhadap tren minuman yang dinilai sudah terlalu umum. Mereka kemudian mencari produk yang belum banyak ditemukan di Malang dan memilih olahan kelapa muda atau degan jelly.

Menariknya, bisnis degan jelly tersebut dimulai dengan modal relatif kecil. Fatkhul dan Farel hanya mengumpulkan Rp620 ribu untuk membeli stok awal sebanyak 60 boks. Produk kemudian dijual dengan harga Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per porsi.

Kelapa Muda Didatangkan dari Banyuwangi

Fatkhul mengatakan, mereka sengaja memilih kelapa muda utuh sebagai bahan utama untuk menjaga rasa dan kualitas produk. Pasokan kelapa didatangkan langsung dari Banyuwangi dengan harga sekitar Rp10 ribu per buah.

“Kopi sama es teh sudah terlalu umum. Kami cari yang masih jarang di Malang, akhirnya ketemu degan jelly,” ujar Fatkhul yang aktif di lembaga sosial Rumah Sedekah, Senin (7/9/2026).

Karena tidak menggunakan bahan pengawet, degan jelly hanya memiliki masa simpan sekitar satu minggu. Kondisi tersebut membuat mereka harus menjaga ritme produksi dan pasokan agar produk tetap segar ketika sampai ke konsumen.

Setiap pekan, stok kembali dipasok. Selain penjualan langsung, degan jelly tersebut telah masuk ke sejumlah kafe dan restoran di Malang, di antaranya Warung Tani dan NK Cafe.

Omzet Rp1,08 Juta per Minggu

Strategi pemasaran tidak hanya mengandalkan mitra usaha. Fatkhul dan Farel juga menerima pesanan secara offline serta menyediakan layanan antar untuk wilayah Kota Malang.

Ongkos kirim dibuat relatif terjangkau, mulai Rp2 ribu hingga Rp5 ribu. Dari perputaran stok mingguan tersebut, omzet kotor yang mereka klaim mencapai sekitar Rp1,08 juta per minggu.

Usaha ini juga memberikan keuntungan bersih yang disebut mencapai sekitar Rp1,6 juta per bulan setelah memperhitungkan biaya operasional dan modal untuk restok.

Namun, perjalanan bisnis tidak selalu mulus. Harga plastik pembungkus atau wrap serta ongkos kirim yang berubah turut memengaruhi harga jual. Produk yang sebelumnya dipasarkan sekitar Rp15 ribu kemudian naik menjadi Rp18 ribu.

Persaingan juga mulai bertambah seiring munculnya pelaku usaha baru. Karena itu, mereka mengandalkan konsistensi rasa, promosi dan hubungan baik dengan mitra.

Keuntungan untuk Rumah Sedekah

Ada hal berbeda dari bisnis yang dijalankan Fatkhul dan Farel. Keuntungan usaha tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk kepentingan pribadi.

Sebagian hasil usaha diputar kembali untuk mendukung operasional dan perawatan fasilitas Rumah Sedekah. Dengan demikian, bisnis degan jelly yang mereka jalankan sekaligus menjadi sumber dukungan bagi kegiatan sosial.

“Kuncinya jaga kepercayaan mitra. Kalau mereka minta stok 10 ya diberi 10, tidak usah dipaksa lebih,” pungkas Fatkhul.

Sumber:

Berita Terkait