2 tahun Disway Malang

Kenapa Makanan Pesawat Terasa Beda Setelah Mendarat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa Makanan Pesawat Terasa Beda Setelah Mendarat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi in-flight meal yang diperoleh dari pesawat--Shutterstock.com

MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Pernah merasa makanan pesawat terasa biasa saja saat disantap di udara, tetapi justru terasa lebih kuat atau berbeda ketika dimakan setelah mendarat? Fenomena ini memang berkaitan dengan kondisi kabin, tetapi bukan berarti makanan tersebut otomatis berubah komposisinya setelah pesawat turun.

Perubahan yang paling mudah dirasakan sebenarnya terjadi pada cara tubuh menangkap rasa dan aroma. Saat penerbangan berlangsung, tekanan kabin lebih rendah dibandingkan permukaan laut, kelembapan udara sangat rendah, dan penumpang terpapar suara mesin serta sistem pendingin secara terus-menerus.

Kombinasi tersebut dapat mengubah persepsi terhadap makanan. Riset mengenai kondisi penerbangan menunjukkan bahwa rasa manis dan asin termasuk yang paling terpengaruh. Karena itu, makanan yang terasa pas atau bahkan kurang kuat di udara dapat memberikan pengalaman berbeda ketika disantap kembali di darat.

Tekanan dan Udara Kering Memengaruhi Persepsi

Pesawat komersial biasanya tidak mempertahankan tekanan kabin setara dengan permukaan laut. Tekanan tersebut dibuat lebih rendah untuk menyesuaikan kondisi penerbangan pada ketinggian jelajah.

Kondisi kabin juga relatif kering. Udara dengan kelembapan rendah dapat membuat kulit dan membran mukosa, termasuk bagian dalam hidung, menjadi lebih kering.

Padahal, aroma memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman yang disebut flavor. Saat mengunyah makanan, senyawa aromatik bergerak melalui jalur retronasal menuju hidung dan diproses bersama informasi dari lidah.

Itulah sebabnya gangguan pada penciuman dapat membuat makanan terasa berbeda meskipun komposisinya sama.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perubahan lingkungan pada ketinggian dapat meningkatkan ambang persepsi untuk rasa tertentu. Rasa manis dan asin cenderung lebih sulit dikenali dibandingkan ketika seseorang berada di darat.

Bukan Hanya Lidah, Suara Mesin Ikut Berpengaruh

Ada faktor lain yang sering luput diperhatikan, yakni suara di dalam kabin.

Penelitian mengenai persepsi makanan menunjukkan bahwa suara keras dapat memengaruhi pengalaman rasa. Dalam kondisi seperti lingkungan pesawat, persepsi terhadap rasa manis dapat menurun, sedangkan karakter umami pada makanan tertentu justru dapat lebih menonjol.

Hal ini turut menjelaskan mengapa makanan atau minuman dengan karakter gurih sering terasa lebih menarik selama penerbangan.

Tomat dan produk berbasis tomat, misalnya, mengandung komponen umami yang relatif mudah tetap terasa di lingkungan penerbangan.

Mengapa Makanan Pesawat Bisa Terasa Berbeda di Darat?

Perubahan pengalaman makan setelah mendarat tidak harus berarti makanan tersebut menjadi lebih asin atau lebih manis secara kimiawi.

Saat berada di darat, kondisi lingkungan kembali mendekati keadaan normal. Persepsi terhadap aroma dan rasa pun dapat berubah dibandingkan ketika seseorang berada di dalam kabin.

Selain faktor tubuh, ada persoalan lain yang sangat penting: proses penyajian makanan pesawat.

Sumber: youtube deunir