Ada yang Makan Sedikit tapi Cepat Gemuk, Ini Faktor yang Mempengaruhi Metabolisme
Ilustrasi ada yang makan sedikit gemuk, makan banyak tetap kurus. -Ciputra hospital--
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Mengapa ada orang yang terlihat tetap kurus meski merasa sudah makan banyak, sementara sebagian lainnya mudah mengalami kenaikan berat badan? Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan metabolisme tubuh.
Namun, anggapan bahwa orang kurus pasti memiliki metabolisme sangat cepat tidak sepenuhnya tepat. Berat badan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, mulai dari jumlah dan jenis makanan, aktivitas fisik, komposisi tubuh, tidur, genetik, obat-obatan hingga kondisi kesehatan tertentu.
Metabolisme sendiri merupakan rangkaian proses tubuh untuk mengubah dan menggunakan energi. Besarnya energi yang digunakan tubuh tidak hanya ditentukan oleh metabolisme saat istirahat, tetapi juga aktivitas fisik dan proses pencernaan makanan.
Mengapa Ada yang Tetap Kurus meski Banyak Makan?
Salah satu faktor yang berpengaruh adalah tingkat aktivitas fisik. Orang yang banyak bergerak dalam kehidupan sehari-hari dapat menggunakan lebih banyak energi dibandingkan mereka yang sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk.
Komposisi tubuh juga berpengaruh. Massa bebas lemak, termasuk otot, berkaitan dengan kebutuhan energi saat tubuh beristirahat. Karena itu, seseorang dengan massa otot lebih besar dapat memiliki pengeluaran energi istirahat yang berbeda dibandingkan orang dengan komposisi tubuh berbeda.
Faktor genetik juga ikut memengaruhi berat badan dan cara tubuh mengatur energi. Namun, genetik bukan berarti seseorang tidak dapat mengubah berat badannya melalui pola makan dan aktivitas fisik.
Selain itu, istilah "makan banyak" perlu dilihat secara lebih objektif. Porsi besar dalam satu waktu belum tentu berarti asupan kalori harian lebih tinggi. Frekuensi makan, jenis makanan, minuman, camilan dan aktivitas sepanjang hari turut menentukan keseimbangan energi.
Mengapa Ada yang Mudah Gemuk meski Merasa Makan Sedikit?
Porsi makanan bukan satu-satunya ukuran jumlah energi yang masuk ke tubuh. Makanan dan minuman dengan kandungan kalori, gula atau lemak tinggi dapat memberikan energi cukup besar meski porsinya tidak terlihat banyak.
Aktivitas fisik yang rendah juga dapat membuat pengeluaran energi lebih kecil. Jika dalam jangka panjang energi yang masuk melebihi energi yang digunakan tubuh, kelebihan tersebut dapat disimpan, termasuk dalam bentuk lemak.
Kurang tidur juga perlu diperhatikan. Pola tidur yang tidak cukup berkaitan dengan peningkatan rasa lapar, asupan kalori dan risiko kenaikan berat badan.
Karena itu, perbedaan berat badan antarindividu tidak tepat jika hanya dijelaskan dengan istilah "metabolisme cepat" atau "metabolisme lambat".
Faktor Hormon dan Gangguan Tiroid
Kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi berat badan. Salah satunya adalah gangguan kelenjar tiroid yang menghasilkan hormon untuk mengatur penggunaan energi tubuh.
Pada hipotiroidisme, produksi hormon tiroid tidak mencukupi sehingga berbagai fungsi tubuh dapat melambat. Kenaikan berat badan merupakan salah satu gejala yang mungkin muncul, meski tidak setiap orang dengan berat badan naik berarti mengalami gangguan tiroid.
Sebaliknya, hipertiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon. Kondisi ini dapat mempercepat berbagai fungsi tubuh dan menyebabkan penurunan berat badan, bahkan ketika nafsu makan meningkat.
Gejala seperti perubahan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, mudah lelah, jantung berdebar, intoleransi terhadap dingin atau panas sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah metabolisme biasa.
Sumber: diolah dari youtube nahjadi dan sumber lainnya


