2 tahun Disway Malang

Festival Nyusu Bareng 2026 di Dusun Brau Kota Batu, Ada 1.000 Cangkir Susu Gratis

Festival Nyusu Bareng 2026 di Dusun Brau Kota Batu, Ada 1.000 Cangkir Susu Gratis

Anggota DPRD Kota Batu Khamim Tohari-ist-Disway malang

BATU, DISWAYMALANG—Dusun Brau, Desa Bumiaji, Kota Batu, tengah menyiapkan cara baru untuk menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Festival Nyusu Bareng 2026 akan digelar September mendatang dengan mengangkat potensi peternakan sapi perah dan produk olahan susu sebagai daya tarik wisata.

Festival yang digagas Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu tersebut tidak hanya menawarkan 1.000 cangkir susu gratis. Kegiatan ini juga diarahkan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi wisata berbasis peternakan, produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta paket wisata menginap di rumah warga.

Dusun Brau memiliki karakter yang berbeda dibandingkan destinasi wisata lain di Kota Batu. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah. Bahkan, jumlah sapi perah di wilayah itu disebut lebih banyak dibandingkan penduduknya.

Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang lebih lengkap. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal aktivitas peternakan dan melihat langsung proses pengolahan susu.

Festival Jadi Etalase Wisata Susu Brau

​Ketua Fordewi Kota Batu, Mochammad Dadi, Selasa (1/9/2026), menjelaskan bahwa festival ini merupakan etalase awal untuk memperkenalkan ekosistem produk olahan susu Brau yang sangat beragam, sekaligus mempromosikan paket wisata live-in.

​"Tujuan kami adalah mengangkat potensi dan menyebarkanpaket-paket wisata yang ada di Dusun Brau, terutama terkait dengan susu. Dari produksi susu tersebut, banyak produk olahan turunannya seperti keju, stik susu, permen susu, yogurt, dan lainnya," ujar Mochammad Dadi.

Dengan konsep tersebut, festival diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Produk lokal dan aktivitas peternakan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.​

Wisatawan Bisa Tinggal di Rumah Warga

Salah satu konsep yang tengah dikembangkan adalah wisata live-in. Wisatawan nantinya dapat tinggal di rumah warga selama satu hingga tiga hari.

Selama berada di Dusun Brau, pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Wisatawan dapat menikmati makanan lokal sekaligus mengikuti aktivitas peternakan.

Pengalaman tersebut antara lain belajar memerah susu dan mengenal cara merawat sapi bersama peternak.

Konsep ini membuat wisata susu Brau tidak sekadar menjual produk, tetapi juga menawarkan pengalaman langsung kepada wisatawan.

Bagi warga, model live-in berpotensi memberikan sumber pendapatan tambahan. Rumah warga dapat menjadi tempat menginap, sementara peternak, UMKM, pelaku kuliner, hingga pengelola wisata dapat terlibat dalam satu rantai ekonomi.

UMKM Jadi Bagian Penting

Anggota DPRD Kota Batu Khamim Tohari mengapresiasi langkah penggiat desa wisata yang mencoba mengembangkan potensi lokal menjadi daya tarik wisata. Menurut dia, Festival Nyusu Bareng dapat dikemas dengan unsur edukasi sehingga pengunjung memperoleh pengetahuan mengenai peternakan sekaligus pengolahan susu.

"Nantinya akan diisi dengan edukasi, di antaranya pengenalan peternak, cara mengolah susu, serta hiburan. Saya yakin nantinya Kota Batu akan semakin dikenal masyarakat luas," tutur Khamim.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat Dusun Brau. Tidak hanya peternak, pelaku UMKM pengolahan susu juga diharapkan memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan. Produk lokal dapat diperkenalkan langsung kepada pengunjung dan berpotensi menjadi oleh-oleh khas kawasan tersebut.

Dorong Wisata Berbasis Potensi Lokal

Pengembangan Festival Nyusu Bareng 2026 menunjukkan upaya menjadikan potensi lokal sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata Kota Batu. Peternakan sapi perah yang selama ini menjadi aktivitas ekonomi masyarakat dapat dikembangkan menjadi atraksi edukatif. Sementara produk olahan susu dapat menjadi bagian dari pengalaman kuliner sekaligus cenderamata wisata.

Konsep tersebut juga membuka peluang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, pelaku UMKM, pengelola desa wisata, dan sektor swasta. Khamim berharap dukungan pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata Kota Batu, dapat memperkuat pengembangan Dusun Brau sebagai destinasi wisata berbasis komunitas.

Dengan pengemasan yang berkelanjutan, Festival Nyusu Bareng diharapkan tidak hanya mendatangkan wisatawan selama acara berlangsung. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi awal pengembangan paket wisata susu Brau yang dapat dinikmati sepanjang tahun.

Bagi Dusun Brau, susu bukan sekadar komoditas hasil peternakan. Potensi tersebut kini coba dikembangkan menjadi identitas wisata yang menghubungkan peternakan, edukasi, UMKM, kuliner, dan kehidupan masyarakat dalam satu pengalaman wisata.

Sumber:

Berita Terkait