2 tahun Disway Malang

Pemuda Jadi Benteng NKRI di Era Digital, Feri Andi Suseko Soroti Ancaman Hoaks hingga Radikalisme

Pemuda Jadi Benteng NKRI di Era Digital, Feri Andi Suseko Soroti Ancaman Hoaks hingga Radikalisme

Feri Andi Suseko. -dprd kab. malang--

KEPANJEN, DISWAYMALANG.ID-- Generasi muda dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga persatuan Indonesia ketika arus informasi dan perubahan global semakin sulit dibendung.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Feri Andi Suseko menilai penguatan nasionalisme menjadi salah satu kunci agar pemuda mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan identitas kebangsaan.

Menurut Feri, perkembangan teknologi dan media sosial membawa peluang sekaligus risiko. Hoaks, ujaran kebencian, propaganda hingga penyebaran paham radikalisme dapat memengaruhi kehidupan sosial apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan menyaring informasi.

Nasionalisme dan Bhinneka Tunggal Ika

Feri menjelaskan, Indonesia memiliki fondasi kebangsaan yang kuat melalui Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Nilai tersebut menjadi pengingat bahwa keberagaman suku, agama, ras dan budaya merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia.

Menurut Feri, keberagaman tersebut harus dirawat agar tidak berubah menjadi sumber konflik.

“Bersama Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—bangsa Indonesia sejatinya memiliki benteng ideologis yang kokoh untuk memelihara persatuan nasional dari ancaman disintegrasi,” ucapnya.

Ketimpangan Sosial hingga Pengaruh Global

Feri menyebut ketahanan kebhinekaan tetap menghadapi sejumlah tantangan. Faktor tersebut dapat berasal dari dalam maupun luar negeri.

Dari sisi internal, ketimpangan struktur ekonomi dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang memicu kerawanan sosial dan konflik horizontal.

Sementara dari lingkungan eksternal, kompetisi politik internasional, arus kapitalisme serta pengaruh budaya luar juga dinilai berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan apabila tidak diimbangi dengan ketahanan ideologi.

Karena itu, menurut Feri, generasi muda perlu memiliki pemahaman kebangsaan sekaligus kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pemuda Diminta Kritis Hadapi Media Sosial

Perkembangan media sosial menjadi perhatian tersendiri. Informasi dapat menyebar dalam waktu singkat tanpa selalu disertai proses verifikasi yang memadai.

Feri mengingatkan potensi penyebaran berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian hingga propaganda paham radikalisme dan terorisme melalui ruang digital.

“Oleh sebab itu, masyarakat khususnya generasi muda dituntut untuk mengedepankan literasi digital, bersikap kritis, serta selalu memverifikasi setiap informasi sebelum menyebarkannya demi mencegah keretakan sosial,” imbuhnya.

Literasi digital, lanjut dia, bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Generasi muda juga harus mampu menilai kebenaran informasi, memahami konteks dan mempertimbangkan dampaknya sebelum ikut menyebarkan sebuah informasi.

Radikalisme Jadi Ancaman Persatuan

Sumber:

Berita Terkait