2 tahun Disway Malang

Batik Tempe Beji Kota Batu Tembus Amerika, Berawal dari 360 Produsen Tempe Rumahan

Batik Tempe Beji Kota Batu Tembus Amerika, Berawal dari 360 Produsen Tempe Rumahan

Peserta Workshop sedang mengikuti kelas membatik motif tempe di Desa Beji Kecamatan Junrejo Kota Batu ‎-Istimewa -

JUNREJO, DISWAYMALANG.ID– Di tengah gemuruh industri tempe yang menjadi denyut nadi perekonomian, Desa Beji, Kecamatan JUNREJO, Kota Batu kini melahirkan karya baru. Bukan makanan, melainkan Batik Tempe. Yaitu kain batik dengan motif kedelai fermentasi khas Indonesia yang kini mulai dikenal luas.

‎Ide unik ini digagas para ibu-ibu pengrajin di desa yang dikenal sebagai sentra produsen tempe terbesar di Kota Batu itu. Dari dapur produksi tempe, kini lahir pula lembar-lembar kain batik yang membawa identitas Desa Beji.

‎Desa Beji memiliki lebih dari 360 produsen tempe rumahan. Hampir setiap rumah di 6 RW memproduksi tempe. Dari potensi itulah muncul gagasan menjadikan tempe sebagai inspirasi motif batik.

BACA JUGA:Gerak Jalan Sehat Pemkot Batu Diwarnai Aksi Peduli NTT dan Berburu Sampah di Rute

‎Pengrajin Batik Tempe Beji Tri Nur Hayati atau akrab disapa Inung, menuturkan ide awal batik tempe berasal dari Pemerintah Desa Beji bersama Karang Taruna pada awal 2021.

‎“Awalnya dari desa dan karang taruna yang punya ide. Kemudian dirangkul ibu-ibu tiap RW untuk ikut pelatihan. Dari situlah munculah Batik Tempe,” kata Inung, Minggu (30/8/2026).

‎Inung menambahkan, produksi Batik Tempe sempat terhenti karena pandemi Covid-19, produksi batik tempe kembali dilanjutkan akhir 2022. Sejak saat itu, para ibu-ibu mulai serius mengembangkan motif hingga pemasaran.

BACA JUGA:Atasi Krisis Lahan Makam, Desa Junrejo Terbitkan Perdes Tata Kelola Pemakaman

‎“Karena di Desa Beji mayoritas industri rumahannya tempe. Kenapa tidak, tempe bisa dijadikan motif batik selain diolah jadi makanan,” ujarnya.

‎Saat ini di Desa Beji dikembangkan dua jenis Batik Tempe, yaitu batik tulis dan batik cap. Inung menjelaskan, proses batik tulis terbilang rumit. Satu pengrajin hanya mampu menyelesaikan sekitar 6 kain dalam sebulan. Sementara untuk batik cap, produksinya bisa lebih banyak. Secara keseluruhan, kelompok pengrajin mampu memproduksi lebih dari 10 kain batik per bulan sesuai pesanan.

‎“Alhamdulillah ada aja yang pesan. Kami punya contoh kain, terus pelanggan memilih lalu kami buatkan sesuai request,” ujarnya.

BACA JUGA:Puncak Kawinajang 2.651 Mdpl Kini Bisa Didaki via Bendosari, Ini Aturan Terbarunya

‎Pesanan tidak hanya datang dari dalam Kota Batu. Sejumlah pembeli dari NTB, Bali, hingga Kalimantan juga sudah memesan. Bahkan, Batik Tempe Beji juga pernah dikirim ke Amerika Serikat setiap tahun berdasarkan pesanan pengunjung galeri mereka.

Sumber:

Berita Terkait