81 tahun RI Disway

Peran Strategis Pemuda di Era Disrupsi Global, Feri Andi Suseko Tekankan Nasionalisme

Peran Strategis Pemuda di Era Disrupsi Global, Feri Andi Suseko Tekankan Nasionalisme

Feri Andi Suseko. -dprd kab. malang --

KEPANJEN, DISWAYMALANG.ID--Arus globalisasi dan keterbukaan informasi membawa tantangan baru bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Generasi muda dinilai memiliki posisi strategis untuk menjaga nasionalisme sekaligus mempertahankan keberagaman bangsa di tengah perubahan global.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Feri Andi Suseko mengatakan penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting agar generasi muda mampu menghadapi dinamika zaman tanpa kehilangan identitas bangsa.

Menurut Feri, konsep Wawasan Nusantara yang menempatkan tanah, air dan udara Indonesia sebagai satu kesatuan mencakup berbagai aspek kehidupan. Mulai politik, ekonomi, sosial budaya hingga pertahanan dan keamanan.

Bhinneka Tunggal Ika Jadi Fondasi Kebangsaan

Feri menilai Indonesia memiliki akar historis dan filosofis yang kuat dalam menjaga persatuan. Salah satunya tercermin melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular.

Menurutnya, semboyan tersebut menjadi landasan untuk membangun harmonisasi di tengah perbedaan suku, ras, agama dan budaya.

"Bersama Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—bangsa Indonesia sejatinya memiliki benteng ideologis yang kokoh untuk memelihara persatuan nasional dari ancaman disintegrasi," ucapnya.

Namun, ketahanan kebhinekaan tetap menghadapi berbagai kerawanan sosial yang berasal dari faktor internal maupun eksternal.

Dari sisi internal, ketimpangan struktur ekonomi dapat menjadi salah satu faktor yang memicu potensi konflik horizontal. Sementara dari sisi eksternal, kompetisi politik internasional, pengaruh kapitalisme dan dominasi budaya luar dinilai berisiko mengikis nilai-nilai kebangsaan.

Pemuda Harus Kritis Hadapi Informasi Digital

Perkembangan media sosial yang cepat dan terbuka juga menjadi tantangan tersendiri. Feri menyoroti potensi penyebaran berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian hingga propaganda paham radikalisme dan terorisme.

Karena itu, generasi muda dituntut memiliki kemampuan literasi digital yang baik. Setiap informasi perlu disikapi secara kritis dan diverifikasi sebelum disebarluaskan.

"Oleh sebab itu, masyarakat khususnya generasi muda dituntut untuk mengedepankan literasi digital, bersikap kritis, serta selalu memverifikasi setiap informasi sebelum menyebarkannya demi mencegah keretakan sosial," imbuhnya.

Feri juga mengingatkan bahaya radikalisme dan terorisme yang dinilai bertentangan dengan semangat kebhinekaan. Paham radikal dapat mendorong pemaksaan kehendak, klaim kebenaran tunggal dan fanatisme sempit yang berpotensi mengikis toleransi.

Menurutnya, pencegahan harus dilakukan secara sistematis dan integratif. Upaya tersebut dapat dimulai sejak dini melalui lingkungan pendidikan hingga tindakan tegas terhadap berbagai tindakan provokatif yang berpotensi memecah belah bangsa.

Kolaborasi Jadi Kunci Menjaga Kebhinekaan

Feri menekankan bahwa menjaga persatuan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda serta pemerintah.

Sumber:

Berita Terkait