Hari Sup Kepiting 27 Agustus: Bukan Sekadar Kuliner, Ada Sejarah Pembebasan Budak di Balik Semangkuk Sup
Hari Sup Kepiting 27 Agustus di Nikaragua ternyata berkaitan dengan sejarah pembebasan budak. Simak sejarah, gizi, harga dan kepiting di Malang Raya. -national today--
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Setiap 27 Agustus ada peringatan unik yang mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia, yakni Hari Sup Kepiting atau Crab Soup Day. Peringatan ini berlangsung di Nikaragua, terutama di kawasan Corn Islands di Laut Karibia.
Namun, Hari Sup Kepiting bukan sekadar perayaan makanan laut. Di balik semangkuk Sup Kepiting terdapat kisah sejarah tentang pembebasan dari perbudakan, tradisi masyarakat Afro-Karibia, serta cara sebuah komunitas mempertahankan ingatan sejarah melalui makanan.
National Today mencatat Crab Soup Day diperingati setiap 27 Agustus di Nikaragua. Perayaan tersebut berkaitan dengan tradisi kuliner masyarakat kepulauan Karibia sekaligus memperingati penghapusan perbudakan.
Mengapa Ada Hari Sup Kepiting?
Akar peringatan ini berada di Corn Island, wilayah kepulauan di lepas pantai Karibia Nikaragua.
Pada 27 Agustus 1841, penduduk yang sebelumnya menjadi budak di Corn Island memperoleh kabar mengenai pembebasan mereka. Catatan pemerintah pariwisata Nikaragua menyebut pembebasan tersebut kemudian dirayakan dengan bahan makanan yang tersedia saat itu, termasuk kepiting dan sayuran.
Kepiting dikumpulkan dari kawasan rawa dan kemudian dimasak menjadi sup. Karena itulah sup kepiting kemudian melekat kuat dengan peringatan kebebasan masyarakat Corn Island.
Pemerintah Nikaragua mencatat bahwa pengumuman pembebasan pada 1841 berkaitan dengan keputusan otoritas Inggris di kawasan tersebut. Penghapusan perbudakan di wilayah Nikaragua sendiri memiliki sejarah lebih panjang, sementara Corn Island mengenang 27 Agustus sebagai momentum kebebasan masyarakat setempat.
Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi festival budaya.
Bukan hanya makan sup kepiting, masyarakat menggelar parade, pertunjukan budaya, lomba, kegiatan kuliner, hingga berbagai acara hiburan. Dalam sejumlah perayaan, sup kepiting bahkan dibagikan secara gratis kepada masyarakat dan wisatawan.
Sup Kepiting Menjadi Simbol Kebebasan
Ada alasan mengapa makanan tersebut begitu penting.
Bagi masyarakat Corn Island, sup kepiting mengingatkan pada kondisi ketika para warga yang baru memperoleh kebebasan harus bertahan dengan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Kepiting, sayuran dan bahan lokal kemudian diolah menjadi makanan bersama. Dari sinilah makanan tidak sekadar berfungsi sebagai sumber energi, tetapi menjadi simbol kebersamaan dan kebebasan.
Tradisi peringatan tersebut bahkan disebut telah dipelihara masyarakat Afro-Karibia Corn Island secara turun-temurun.
National Today juga menyebut sup kepiting Nikaragua umumnya menggunakan kepiting segar, santan, sayuran umbi seperti singkong dan malanga, pisang raja muda serta rempah. Komposisi tersebut menghasilkan makanan yang gurih, kaya rasa dan cukup mengenyangkan.
Kandungan Gizi Kepiting
Terlepas dari sejarahnya, kepiting memang memiliki nilai gizi yang menarik.
Sumber: national today dan berbagai sumber lainnya












