Harga Emas Antam Berpotensi Tembus Rp2,86 Juta, Ini Pemicu Kenaikannya
Setelah merosot tajam pada perdagangan Rabu lalu, harga emas hasil produksi PT Aneka Tambang Tbk atau yang biasa dikenal sebagai emas Antam kini kembali melonjak naik-Dok. ANTAM---
JAKARTA, DISWAYMALANG.ID-- Harga emas Antam berpeluang kembali menguat pada perdagangan pekan ini. Proyeksi tersebut muncul di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas Antam bergerak di rentang Rp2,6 juta hingga Rp2,864 juta per gram pada pekan mendatang. Jika proyeksi tersebut terealisasi, harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk itu berpotensi menembus Rp2,86 juta per gram.
Sejumlah faktor global menjadi perhatian investor. Ketegangan geopolitik, kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS), arah kebijakan bank sentral, hingga tingginya permintaan emas global dinilai masih menjadi katalis bagi pergerakan harga logam mulia.
Ketegangan Geopolitik Jadi Perhatian
Ibrahim menilai kondisi geopolitik masih menjadi salah satu faktor penting yang berpotensi mendorong kenaikan harga emas.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. AS disebut tengah menyiapkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran.
Rencana tersebut mendapat respons keras dari Teheran. Iran bahkan disebut mengancam menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Jika ketegangan meningkat, gangguan terhadap pasokan energi global berpotensi terjadi. Kondisi tersebut dapat mendorong harga minyak sekaligus meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven.
Tiongkok juga berpotensi terkena dampak karena menjadi salah satu importir utama minyak mentah Iran. Ibrahim menyebut sekitar 80 persen minyak mentah Iran diekspor ke Tiongkok.
Risiko geopolitik lainnya masih berasal dari konflik Israel dan Suriah yang turut melibatkan Turki serta perang Rusia-Ukraina.
Kebijakan AS dan The Fed Berpengaruh
Faktor lain berasal dari kebijakan fiskal AS. Tingginya beban utang pemerintah AS dinilai mendorong Departemen Keuangan melakukan buyback atau pembelian kembali obligasi, terutama surat utang dengan tenor 10 hingga 30 tahun.
Rencana perluasan buyback hingga lebih dari USD4 triliun diperkirakan dapat menekan imbal hasil atau yield obligasi AS jangka panjang.
Situasi tersebut berpotensi membuat investor mengalihkan sebagian dana ke emas sebagai instrumen lindung nilai.
Dari sisi moneter, Federal Reserve atau The Fed juga diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang.
Meski inflasi AS masih berada di atas target 2 persen, ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dinilai semakin terbatas. Kondisi tersebut dapat menjadi faktor pendukung harga emas.
Permintaan Emas Global Masih Tinggi
Sumber: harian.disway.id











