81 tahun RI Disway

Monumen Pujon Jadi Saksi Pertempuran Garis Van Mook, Kopral Kastawi Gugur Melawan Belanda

Monumen Pujon Jadi Saksi Pertempuran Garis Van Mook, Kopral Kastawi Gugur Melawan Belanda

Monumen Perang Kemerdekaan Bangsa Indonesia Ke-2 Garis Statusquo lijn Pandesari di Depan Kantor Kecamatan Pujon Kabupaten Malang -Sholeh/Diswaymalang -

PUJON, DISWAYMALANG.ID--Keberadaan Monumen PUJON di depan Kantor Kecamatan PUJON, Kabupaten Malang, tentu sudah tidak asing bagi masyarakat yang sering melintas di Jalan Raya Abdul Manan, Desa Pandesari.

Monumen tersebut menggambarkan seorang pejuang yang menggendong rekannya yang gugur. Di belakangnya tampak pejuang lain bersiap dengan senjata teracung. Sementara di bagian belakang terdapat sebuah mobil Jeep.

Monumen itu menjadi pengingat perlawanan rakyat dan pejuang Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan di kawasan Pujon pada masa Agresi Militer Belanda.

BACA JUGA:Hari Kidal Internasional 13 Agustus, Ini Fakta dan Alasan Orang Kidal Perlu Dipahami

Pujon Jadi Garis Pemisah RI dan Belanda

Tepat di seberang monumen terdapat sebuah tugu bertuliskan Status Quo Lijn atau Garis Status Quo.

Tugu tersebut menjadi penanda garis demarkasi yang memisahkan wilayah Republik Indonesia dan wilayah yang dikuasai Belanda setelah Perjanjian Renville.

Kawasan Pandesari menjadi salah satu titik penting di sepanjang garis demarkasi wilayah Pujon. Keberadaan garis status quo tersebut kemudian menjadi penanda sejumlah pertempuran antara pasukan Republik dan Belanda.

Garis tersebut dikenal sebagai Garis Van Mook. Setelah Perjanjian Renville, gencatan senjata diberlakukan di sepanjang garis demarkasi tersebut.

Namun, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya tenang. Pos pertahanan dan pos keamanan didirikan di sekitar garis demarkasi. Pasukan Republik dan Belanda juga melakukan patroli di wilayah masing-masing.

BACA JUGA:Indonesia Raya 3 Stanza untuk Upacara HUT RI 2026, Ini Lirik dan Makna Setiap Baitnya

Kawasan Pandesari Pujon kemudian menjadi salah satu lokasi terjadinya bentrokan bersenjata.

Pertempuran 7 Desember 1948

Salah satu pertempuran penting terjadi pada 7 Desember 1948.

Saat itu, pasukan yang dipimpin Kopral Kastawi melakukan penyusupan ke wilayah yang dikuasai Belanda di pedalaman Desa Pandesari.

Pasukan tersebut kemudian menyerang pos tentara Belanda. Sekitar pukul 16.00 terjadi baku tembak antara pasukan Kastawi dan tentara Belanda yang sedang melakukan patroli.

Sumber:

Berita Terkait