81 tahun RI Disway

Junrejo Culture Carnival 2026 Digelar, Ternyata Desa Junrejo Punya Sejarah Telaga Kuno

Junrejo Culture Carnival 2026 Digelar, Ternyata Desa Junrejo Punya Sejarah Telaga Kuno

Panggung kehormatan karnaval budaya Junrejo di Balai Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu -Sholeh/Diswaymalang -

JUNREJO, DISWAYMALANG.IDDesa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, tengah menggelar Junrejo Culture Carnival 2026, Minggu (9/8/2026). Karnaval budaya tersebut digelar untuk merayakan Selamatan Desa sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di balik kemeriahan karnaval, Desa Junrejo menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan keberadaan sumber air, telaga kuno, hingga peninggalan masa pendudukan Jepang.

Desa Junrejo sendiri merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Junrejo. Wilayahnya memiliki luas sekitar 433,157 hektare dan terdiri dari tiga dusun, yakni Junwatu, Jeding, dan Rejoso.

Asal-Usul Nama Junrejo

Nama Junrejo dipercaya berasal dari gabungan kata Jun dan Rejo.

Jun merujuk pada jun watu atau gentong yang terbuat dari batu dan dahulu digunakan sebagai tempat penampungan air. Sementara rejo dalam bahasa Jawa berarti ramai.

Dengan demikian, Junrejo dapat dimaknai sebagai kawasan yang ramai di sekitar sumber air atau jun watu.

Sejarah tersebut berkaitan erat dengan keberadaan telaga dan sumber air yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di wilayah tersebut sejak masa lampau.

BACA JUGA:4.000 Warga Meriahkan Junrejo Culture Carnival 2026, Sound Horeg Dibatasi 6 Subwoofer

Telaga Kuno dan Patirtan Mataram Kuno

Menurut Buku Jejak Nama Tempat di Kota Batu yang diterbitkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu pada 2022, kawasan Junrejo memiliki jejak keberadaan telaga kuno.

Pada 1914, di wilayah Dusun Junwatu ditemukan sebuah jun atau tempayan batu di sebuah telaga yang berada di Desa Telogorejo.

Telaga tersebut pada masa lalu digunakan masyarakat sebagai tempat mandi. Karena fungsinya itu, wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama Jeding pada 1922.

Setahun kemudian, tepatnya pada 1923, nama wilayah tersebut berubah menjadi Junrejo, yang merupakan gabungan kata Jun dan Rejo.

Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa telaga itu diduga merupakan patirtan, yakni tempat penyucian diri yang berkaitan dengan tradisi keagamaan Hindu pada masa Mataram Kuno sekitar abad ke-8 hingga ke-11.

Patirtan memiliki fungsi penting sebagai tempat membersihkan diri sebelum seseorang menjalankan ibadah.

Telaga Tertimbun dan Legenda Mbah Wiwit

Keberadaan patirtan tersebut kemudian tertutup longsor yang dikaitkan dengan aktivitas gunung berapi selama puluhan tahun.

Sumber:

Berita Terkait