Bukan Sekadar Mitos, Gunung Kawi Jadi Tempat Sudono Salim Menguji Insting Bisnis
Salim Group: imigran yang membangun kerajaan Indonesia, dari Indomie dan BCA Bank hingga Indofood dan Bogasari--
MALANG, DISWAYMALANG.ID – Sudono Salim Gunung Kawi menjadi kisah yang hingga kini masih menarik perhatian publik. Di balik kesuksesannya membangun Salim Group sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim ternyata memiliki kebiasaan yang tidak lazim bagi seorang pebisnis modern.
Jika kebanyakan keputusan bisnis didasarkan pada analisis pasar, laporan keuangan, dan proyeksi ekonomi, Sudono Salim justru melengkapinya dengan perjalanan spiritual ke Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Baginya, tempat tersebut bukan sekadar lokasi mencari keberuntungan, melainkan ruang kontemplasi sebelum mengambil keputusan bisnis bernilai besar.
Kisah tersebut diungkap dalam buku Liem Sioe Liong and Salim Group: The Business Pillar of Suharto's Indonesia karya Richard Borsuk dan Nancy Chng. Buku itu menggambarkan sisi lain pendiri Salim Group yang memadukan intuisi, spiritualitas, dan pertimbangan bisnis dalam setiap langkah penting perusahaan.
Gunung Kawi Jadi Tempat Menguji Insting Bisnis
Dalam buku tersebut diceritakan bahwa Sudono Salim beberapa kali mendatangi Gunung Kawi untuk melakukan ritual Ciam Si sebelum mengambil keputusan strategis.
Bagi Sudono Salim, ritual tersebut bukan semata-mata mencari keberuntungan. Ia menjadikannya sebagai sarana memperkuat keyakinan terhadap keputusan yang akan diambil sekaligus menenangkan pikiran sebelum menghadapi risiko besar.
Perjalanan spiritual itu bahkan dilakukan beberapa kali dalam setahun sebagai bagian dari proses refleksi pribadi di tengah tekanan dunia bisnis.
Kisah Pertemuan dengan Mochtar Riady
Salah satu peristiwa yang paling sering dikaitkan dengan kebiasaan tersebut terjadi pada 1975 ketika Sudono Salim bertemu bankir Mochtar Riady.
Secara profesional, kemampuan Mochtar Riady sudah diakui. Namun Sudono Salim tidak langsung mengajaknya bekerja sama.
Sebelum mengambil keputusan, ia lebih dulu melakukan perjalanan ke Gunung Kawi untuk meminta petunjuk melalui ritual Ciam Si.
Setelah memperoleh hasil yang dianggap baik, kerja sama pun dijalankan. Kolaborasi tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Bank Central Asia (BCA) hingga menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.
Filosofi Kesederhanaan dalam Berbisnis
Selain dikenal rutin berkunjung ke Gunung Kawi, Sudono Salim juga memiliki filosofi hidup yang sederhana.
Saat membangun konglomerasi bersama kelompok usaha yang dikenal sebagai Gang of Four pada akhir 1960-an, ia justru memilih ruang kerja yang kecil dan sederhana.
Ruangannya hanya berisi sebuah meja tanpa kemewahan. Baginya, efisiensi dan fokus jauh lebih penting dibanding menunjukkan status melalui kantor mewah.
Prinsip tersebut juga selaras dengan keyakinannya terhadap feng shui yang menekankan keseimbangan, kesederhanaan, dan efektivitas dalam bekerja.
Ritual sebagai Cara Menjernihkan Pikiran
Dalam perspektif psikologis, kebiasaan Sudono Salim mendatangi Gunung Kawi dapat dipandang sebagai cara untuk melakukan refleksi sebelum mengambil keputusan besar.
Sumber: dirangkum dari berbagai sumber


