Gus Baha: Jangan Merasa Paling Menentukan Hidup, Semua Tetap dalam Kehendak Allah
Ilustrasi Gus Baha saat ceramah di Korea Selatan atas undagan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama (NU Korea Selatan). -bangkit media--
KOREA SELATAN, DISWAYMALANG.ID – Masih melanjutkan cearmah KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Korea Selatan, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA Kragan, Rembang, Jateng, itu mengajak umat Islam memahami makna tauhid secara lebih mendalam melalui kehidupan sehari-hari. Menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim, manusia memang diperintahkan untuk berikhtiar, tetapi tidak boleh merasa sebagai pihak yang paling menentukan hasil akhir dari setiap rencana.
Dalam ceramahnya, Gus Baha menjelaskan bahwa orang yang benar-benar memahami tauhid akan menyadari seluruh peristiwa di alam semesta tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, manusia seharusnya lebih banyak bertanya tentang apa yang Allah kehendaki, bukan sekadar sibuk mengejar keinginannya sendiri.
Orang Berakal Selalu Mengingat kehendak Allah
Menurut Gus Baha, orang yang memiliki pemahaman tauhid akan memandang hidup dengan penuh kerendahan hati. Ia tidak mudah menganggap seluruh keberhasilan berasal dari kemampuan dirinya sendiri.
Sebaliknya, orang yang lalai sering kali merasa dapat mengatur seluruh kehidupannya melalui rencana-rencana yang telah disusun.
Padahal, kata Gus Baha, tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada hari esok.
"Banyak orang membuat rencana, tetapi keputusan akhirnya tetap berada di tangan Allah," jelasnya.
Rencana Manusia Bisa Berubah Sewaktu-waktu
Untuk memudahkan pemahaman, Gus Baha memberikan sejumlah contoh yang dekat dengan kehidupan.
Seseorang bisa merencanakan perjalanan jauh, namun tiba-tiba batal karena bencana alam. Ada pula yang telah memiliki berbagai target hidup, tetapi harus mengubah semuanya akibat keadaan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Menurutnya, pengalaman seperti itu menjadi bukti bahwa manusia hanya memiliki kemampuan untuk berusaha, sedangkan hasil akhirnya sepenuhnya merupakan ketetapan Allah.
Karena itu, umat Islam diajarkan mengucapkan insya Allah ketika merencanakan sesuatu sebagai bentuk pengakuan bahwa semua bergantung kepada kehendak-Nya.
Tauhid Mengajarkan Kerendahan Hati
Gus Baha menilai kesadaran terhadap kekuasaan Allah akan membuat seseorang lebih rendah hati.
Ia mengingatkan bahwa manusia bahkan tidak mampu mengendalikan banyak hal dalam tubuhnya sendiri, seperti detak jantung, proses pernapasan, maupun bertambahnya usia.
Semua berlangsung atas kehendak Allah tanpa campur tangan manusia.
Begitu pula dengan kematian. Tidak ada seorang pun yang dapat menentukan kapan ajal datang ataupun bagaimana proses kehidupan akan berakhir.
Ikhtiar Tetap Penting, tetapi Jangan Lupakan Tawakal
Meski menekankan pentingnya tawakal, Gus Baha tidak mengajarkan umat untuk meninggalkan ikhtiar.
Sumber:






