1 tahun disway

Gus Baha: Jangan Sibuk Menghitung Nikmat Orang Lain, Rezeki Sudah Diatur Allah

Gus Baha: Jangan Sibuk Menghitung Nikmat Orang Lain, Rezeki Sudah Diatur Allah

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. --islami.co--

MALANG, DISWAYMALANG.IDKH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha mengajak umat Islam menjauhi sifat iri dan dengki (hasad) terhadap nikmat yang diterima orang lain. Menurutnya, penyakit hati tersebut hanya membuat seseorang kehilangan ketenangan tanpa mengubah sedikit pun rezeki yang telah Allah SWT tetapkan.

Dalam sebuah kajian keagamaan, Gus Baha menyampaikan tausiyah dengan gaya khasnya yang sederhana, logis, dan diselingi humor. Ia mengajak jamaah memahami bahwa setiap rezeki telah diatur Allah SWT sehingga tidak ada alasan untuk merasa iri terhadap keberhasilan orang lain.

Jangan Sibuk Menghitung Nikmat Orang Lain

Mengawali ceramahnya, ulama asal Rembang itu menjelaskan bahwa iri hati sering muncul karena seseorang terlalu fokus memperhatikan kenikmatan yang dimiliki orang lain.

"Wong nek sibuk ndelok nikmate tanggane, pikirane dadi ruwet. Padahal rezekine tanggamu iku ora jupuk stok rezekimu (Orang kalau sibuk melihat nikmatnya tetangga, pikirannya menjadi ruwet. Padahal, rezekinya tetangga Anda itu tidka menbamil stok rezeki Anda, red) ," tutur Gus Baha.

Menurut Gus Baha, ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan tetangga atau teman yang memiliki rumah lebih bagus, kendaraan baru, atau jabatan lebih tinggi, yang dirugikan justru dirinya sendiri. Nikmat yang diterima orang lain tidak akan mengurangi bagian rezeki yang telah Allah tetapkan untuk dirinya.

hasad Sama dengan Memprotes Takdir Allah

Gus Baha menjelaskan bahwa hasad bukan sekadar persoalan hubungan antarmanusia, tetapi juga berkaitan dengan keimanan.

Ia menilai, orang yang tidak senang melihat keberhasilan orang lain secara tidak langsung mempertanyakan kebijaksanaan Allah dalam membagikan rezeki kepada hamba-Nya.

Beliau juga mengingatkan bahwa ridha terhadap ketentuan Allah merupakan bagian penting dari keimanan. Sebaliknya, iri hati menjadi tanda bahwa seseorang belum sepenuhnya percaya pada keadilan dan kebijaksanaan Allah SWT.

Selain itu, Gus Baha mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa sifat dengki dapat menghapus pahala amal kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.

Syukur Jadi Kunci Kebahagiaan

Dalam tausiyahnya, Gus Baha menekankan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan kemampuan seseorang mensyukuri nikmat yang telah dimiliki.

Ia mengajak jamaah untuk menikmati kehidupan apa adanya tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Menurutnya, rasa syukur akan melahirkan hati yang lapang, sedangkan iri hanya menghadirkan kegelisahan yang tidak berkesudahan.

Resep Hidup Tenang ala Gus Baha

Menutup kajiannya, Gus Baha membagikan pesan sederhana agar seseorang terbebas dari penyakit iri dan dengki.

"Nek mboten iso melu seneng delok wong liya seneng, minimal ojo susah delok wong liya seneng. (Jika tidak bisa ikut senang melihat orang lain senang, minimal jangan sedih melihat orang lain senang, red). Hidup itu dibuat simpel saja. Syukuri kopi yang ada di depanmu, syukuri napas yang masih ada. Itu sudah nikmat yang luar biasa."

Pesan tersebut disambut tawa sekaligus tepuk tangan para jamaah. Kajian kemudian ditutup dengan doa bersama agar seluruh umat diberikan hati yang qanaah, lapang dada, serta dijauhkan dari sifat hasad yang dapat merusak persaudaraan dan mengikis pahala amal kebaikan.

Sumber: youtube

Berita Terkait