Pernah Salah Tukar Kata Saat Bicara? Bisa Jadi Itu Fenomena Spoonerisme
Memahami Spoonerisme sebagai Fenomena Kekhilafan Berbahasa dalam Kajian Linguistik dan Medis--Pronunciation Studio
MALANG, DISWAYMALANG.ID--Pernah mengalami salah mengucapkan kata hingga bunyi awal atau suku katanya tertukar? Kondisi tersebut bisa jadi merupakan fenomena spoonerisme. Istilah ini merujuk pada kekhilafan berbahasa ketika seseorang secara tidak sengaja menukar bunyi, huruf, atau suku kata dari dua kata dalam satu rangkaian kalimat.
Fenomena spoonerisme sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan biasanya dianggap sebagai kesalahan kecil yang mengundang tawa. Namun, di balik kesalahan tersebut terdapat proses kompleks yang menunjukkan bagaimana otak manusia menyusun dan menghasilkan bahasa.
Dalam kajian psikolinguistik, spoonerisme termasuk dalam kategori slip of the tongue atau kekhilafan lidah. Fenomena ini menjadi salah satu cara bagi para ahli untuk memahami mekanisme kerja otak ketika seseorang merencanakan sebuah ucapan.
Asal Istilah Spoonerisme
Nama spoonerisme berasal dari William Archibald Spooner, seorang pengajar di Universitas Oxford pada akhir abad ke-19. Ia dikenal sering melakukan kesalahan pengucapan dengan menukar bunyi awal beberapa kata secara tidak sengaja.
Kesalahan pengucapan tersebut kemudian menjadi perhatian dan akhirnya digunakan sebagai istilah dalam studi bahasa.
Dilansir dari ui.ac.id, spoonerisme menunjukkan bahwa proses menghasilkan ucapan bukanlah aktivitas sederhana. Sebelum sebuah kalimat keluar dari mulut, otak harus menyusun kata, menentukan urutan bunyi, lalu mengirimkan perintah kepada organ bicara agar menghasilkan suara yang sesuai.
Penyebab Terjadinya Spoonerisme
Secara neurologis, spoonerisme terjadi ketika terdapat gangguan sesaat dalam koordinasi antara pusat perencanaan bahasa di otak dan organ artikulasi seperti lidah serta otot mulut.
Saat seseorang berbicara, otak bekerja cepat dalam memilih kata dan mengatur susunan bunyi. Namun, dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat mengalami kesalahan sementara sehingga menghasilkan pertukaran suara atau suku kata.
Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya spoonerisme antara lain kelelahan, berbicara terlalu cepat, tekanan psikologis, kecemasan, atau hilangnya fokus.
Menurut ugm.ac.id, ketika seseorang berada dalam kondisi tersebut, kemampuan kontrol eksekutif otak dapat mengalami penurunan sementara sehingga proses penyusunan bahasa menjadi kurang akurat.
Spoonerisme Tidak Selalu Menandakan Gangguan Otak
Pada sebagian besar kasus, spoonerisme merupakan fenomena normal yang dapat dialami siapa saja. Kesalahan tersebut tidak selalu menunjukkan adanya gangguan kesehatan tertentu.
Bahkan, banyak orang mengalaminya ketika sedang terburu-buru atau berbicara dalam situasi santai. Hasilnya pun sering kali berupa kombinasi kata baru yang terdengar lucu, meskipun sebenarnya tidak memiliki makna.
Menariknya, kesalahan tersebut tetap mengikuti pola bunyi yang sesuai dengan aturan bahasa yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa otak tetap memiliki sistem terstruktur dalam mengolah bahasa meski terjadi kekeliruan sesaat.
Kaitan Spoonerisme dengan Gangguan Bahasa
Meski umumnya tidak berbahaya, spoonerisme yang terjadi secara terus-menerus dan dalam intensitas tinggi dapat menjadi tanda adanya gangguan pemrosesan bahasa tertentu.
Sumber: ui.ac.id


