Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia 27 Juli: 947.211 Kasus Baru per Tahun, Deteksi Dini Jadi Kunci
Ilustrasi wapada kanker leher dab kepala. -klikdokter.com--
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia diperingati setiap 27 Juli sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap salah satu jenis kanker yang kerap terlambat terdeteksi. Peringatan ini diinisiasi oleh International Federation of Head and Neck Oncologic Societies (IFHNOS) dan mendapat dukungan berbagai organisasi kesehatan dunia.
Melalui Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia, masyarakat diajak mengenali gejala sejak dini, memahami faktor risiko, serta tidak mengabaikan perubahan pada area kepala dan leher yang berlangsung dalam waktu lama. Deteksi dini menjadi kunci utama karena peluang kesembuhan pasien akan meningkat signifikan apabila kanker ditemukan pada stadium awal.
Kanker Kepala dan Leher mencakup berbagai jenis kanker yang menyerang rongga mulut, lidah, tenggorokan (faring), pita suara (laring), rongga hidung, sinus, hingga kelenjar ludah. Penyakit ini masih menjadi ancaman serius di dunia. Berdasarkan Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), setiap tahun terdapat sekitar 947.211 kasus baru Kanker Kepala dan Leher dengan 482.428 kematian secara global.
Data tersebut menunjukkan besarnya beban penyakit ini terhadap kesehatan masyarakat dunia. Jenis kanker yang paling banyak ditemukan adalah kanker rongga mulut dan bibir yang menyumbang sekitar 41 persen kasus, disusul kanker laring sekitar 20 persen, serta kanker nasofaring dan orofaring. Dari sisi distribusi pasien, laki-laki memiliki risiko jauh lebih tinggi dibanding perempuan dengan rasio sekitar 3:1, yang sebagian besar berkaitan dengan tingginya prevalensi kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta paparan faktor risiko lainnya.
Gejala Awal Sering Dianggap Penyakit Biasa
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan Kanker Kepala dan Leher adalah gejala awal yang sering dianggap sepele. Padahal, beberapa keluhan dapat menjadi tanda adanya gangguan serius apabila berlangsung dalam waktu lama.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sariawan yang tidak kunjung sembuh, suara serak lebih dari dua minggu, nyeri tenggorokan berkepanjangan, kesulitan menelan, benjolan di leher, hidung tersumbat sebelah secara terus-menerus, hingga perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya.
Karena gejalanya menyerupai penyakit ringan, banyak pasien menunda pemeriksaan hingga kanker berkembang ke stadium yang lebih berat.
Merokok, Alkohol, dan HPV Jadi Faktor Risiko Utama
Dalam berbagai kampanye Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia, organisasi kesehatan dunia terus mengingatkan pentingnya mengurangi faktor risiko yang dapat memicu munculnya penyakit ini.
Kebiasaan merokok masih menjadi penyebab utama Kanker Kepala dan Leher. Risiko semakin meningkat apabila disertai konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Selain itu, infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama pada beberapa jenis kanker tenggorokan, juga menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir.
Menjalani pola hidup sehat, menghentikan kebiasaan merokok, membatasi konsumsi alkohol, menjaga kebersihan mulut, serta melakukan vaksinasi HPV sesuai rekomendasi tenaga kesehatan menjadi langkah penting dalam menurunkan risiko penyakit tersebut.
Deteksi Dini Meningkatkan Peluang Kesembuhan
Pesan utama yang terus digaungkan dalam Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia adalah pentingnya deteksi dini. Pemeriksaan sejak muncul gejala awal memungkinkan dokter memberikan penanganan lebih cepat sehingga peluang keberhasilan terapi menjadi lebih tinggi.
Masyarakat diimbau segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami keluhan pada area kepala dan leher yang tidak membaik dalam waktu lebih dari dua minggu.
Selain pemeriksaan rutin, edukasi mengenai tanda-tanda awal kanker juga dinilai penting agar masyarakat tidak lagi menganggap gejala tersebut sebagai gangguan kesehatan biasa.
Manuary, Kampanye Global Tingkatkan Kesadaran
Selain peringatan setiap 27 Juli, kampanye peningkatan kesadaran mengenai Kanker Kepala dan Leher juga dilakukan melalui gerakan Manuary yang berlangsung sepanjang Januari.
Kampanye ini mengajak para pria menumbuhkan janggut selama sebulan sebagai simbol dukungan terhadap penyintas Kanker Kepala dan Leher sekaligus membuka ruang diskusi mengenai pentingnya deteksi dini.
Peserta juga didorong membagikan pengalaman mereka melalui media sosial, mengikuti kegiatan penggalangan dana, hingga mendukung penelitian kanker melalui berbagai organisasi kesehatan.
Meski berbeda waktu pelaksanaannya, tujuan Manuary sejalan dengan Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia, yakni meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan global.
Melalui peringatan setiap 27 Juli, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kewaspadaan terhadap gejala awal, penerapan gaya hidup sehat, serta pemeriksaan medis secara dini dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi utama dalam menekan angka kematian akibat kanker kepala dan leher di berbagai negara.
Sumber: unikma.ac.id


