1 tahun disway

Gus Baha: Islam Itu Mudah dan Menggembirakan, Jangan Dipersulit hingga Menakutkan (3)

Gus Baha: Islam Itu Mudah dan Menggembirakan, Jangan Dipersulit hingga Menakutkan (3)

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha -ist-

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Di tengah munculnya kecenderungan sebagian orang memahami agama secara kaku, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengajak umat Islam kembali melihat bagaimana Rasulullah saw mengajarkan agama dengan cara yang sederhana, manusiawi, dan membahagiakan.

Dalam ceramahnya atas undangan KH M Quraish Shihab, Gus Baha menegaskan bahwa Islam sejak awal tidak diturunkan untuk mempersulit kehidupan manusia. Sebaliknya, syariat hadir sebagai petunjuk yang memudahkan umat menjalankan kehidupan tanpa kehilangan nilai-nilai akhlak.

Menurutnya, banyak persoalan muncul ketika agama dipenuhi formalitas, tetapi kehilangan ruh kasih sayang dan kemudahan yang justru dicontohkan Rasulullah.

"Nabi itu dalam keseharian biasa sekali, tetapi hasilnya luar biasa."

Kalimat sederhana itu menjadi pembuka penjelasan Gus Baha tentang bagaimana Rasulullah membangun peradaban bukan melalui pencitraan, melainkan melalui akhlak yang alami dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Rasulullah Tidak Pernah Membuat Agama Terlihat Rumit

Gus Baha kemudian mengutip pesan gurunya, almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), yang menurutnya sangat relevan dengan kondisi umat Islam saat ini.

"Islam itu tidak pernah trauma kepada orang biasa. Yang justru bikin repot adalah orang yang merasa paling benar."

Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang gemar mengklaim dirinya paling saleh sering kali justru melahirkan kegaduhan dalam kehidupan beragama.

Sebaliknya, masyarakat sederhana yang menjalankan agama dengan penuh ketulusan justru lebih mudah menjaga persaudaraan.

Menurut Gus Baha, Rasulullah sendiri tidak pernah menjadikan agama sebagai beban psikologis bagi umatnya.

"Nabi itu tidak menjaga citra. Beliau hidup sebagaimana manusia biasa."

Fatwa Bisa Disampaikan di Tengah Jalan

Untuk memperkuat penjelasannya, Gus Baha mengutip sejumlah riwayat dalam Shahih Bukhari.

Salah satunya menceritakan seorang perempuan dari Bani Khats'am yang menghentikan perjalanan Rasulullah ketika beliau sedang menuju ibadah haji.

Perempuan tersebut bertanya mengenai hukum menghajikan ayahnya yang sudah lanjut usia dan tidak mampu lagi menunaikan ibadah haji.

Tanpa meminta perempuan itu datang ke rumah atau membuat janji khusus, Rasulullah langsung memberikan jawaban saat itu juga.

Menurut Gus Baha, riwayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi tidak mempersulit akses masyarakat terhadap ilmu.

"Nabi biasa memberi fatwa di jalan."

Ia bahkan menyebut Imam Bukhari membuat bab khusus mengenai hal tersebut dalam kitab shahihnya.

Bagi Gus Baha, sikap Rasulullah ini menjadi pelajaran penting bagi para pendakwah agar tidak menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang sulit dijangkau masyarakat.

Haji Amanah Sudah Dikenal sejak Zaman Nabi

Masih dari riwayat yang sama, Gus Baha menjelaskan bahwa praktik menghajikan orang yang sudah tidak mampu secara fisik ternyata memiliki dasar yang kuat dalam fikih Islam.

Perempuan dari Bani Khats'am bertanya apakah ia boleh menggantikan ayahnya yang telah renta untuk menunaikan haji.

Rasulullah membolehkannya.

Menurut Gus Baha, dari peristiwa itulah para ulama kemudian membahas konsep haji niabah atau yang di masyarakat Indonesia sering dikenal dengan istilah haji amanah.

Ia menjelaskan bahwa fikih membedakan dua keadaan.

Pertama, menghajikan orang yang telah meninggal.

Kedua, menghajikan orang yang masih hidup tetapi secara permanen sudah tidak memiliki kemampuan fisik untuk menunaikan ibadah haji.

"Jadi haji amanah itu bukan tradisi baru. Dasarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah."

Humor yang Tetap Mengandung Ilmu

Seperti biasanya, Gus Baha menyampaikan penjelasan fikih dengan diselingi humor.

Ia menceritakan pengalamannya ketika memiliki teman yang bercanda mengenai biaya haji amanah.

Menurut temannya, menghajikan orang yang masih hidup jauh lebih mahal dibanding menghajikan orang yang sudah meninggal.

Cerita itu disampaikan Gus Baha dengan gaya jenaka yang mengundang tawa jamaah.

Namun di balik humor tersebut, ia tetap menegaskan bahwa persoalan ibadah harus mengikuti ketentuan fikih, bukan sekadar pertimbangan biaya.

Menurutnya, humor hanya menjadi sarana agar ilmu lebih mudah diterima masyarakat.

Kisah Ujian Munkar Nakir yang Mengundang Tawa

Pada bagian lain ceramahnya, Gus Baha mengisahkan pengalaman lucu ketika diminta membantu menyelesaikan persoalan di sebuah sekolah.

Saat itu ada seorang guru yang dianggap melanggar aturan karena membocorkan soal ujian agar seluruh santrinya lulus.

Ketika dimintai penjelasan, guru tersebut justru memberikan alasan yang tidak biasa.

Menurutnya, para kiai saja sudah membocorkan jawaban ujian Munkar dan Nakir kepada santri melalui pengajian. Karena itu, ia menganggap membocorkan soal ujian sekolah bukan persoalan besar.

Cerita tersebut langsung disambut gelak tawa jamaah.

Meski demikian, Gus Baha segera meluruskan bahwa logika tersebut tentu tidak dapat dibenarkan.

Ia hanya ingin menunjukkan bagaimana masyarakat kadang memiliki cara berpikir yang unik dalam memahami agama.

"Kalau di Indonesia ya tetap tidak boleh."

Agama Tidak Perlu Dibuat Menakutkan

Menurut Gus Baha, salah satu tantangan dakwah saat ini adalah munculnya kecenderungan menjadikan agama identik dengan ketakutan.

Padahal, Rasulullah justru dikenal sebagai sosok yang memudahkan umat.

Ia mengingatkan bahwa banyak hadis menunjukkan Nabi selalu memilih jalan yang paling mudah selama tidak mengandung dosa.

Karena itu, umat Islam tidak perlu merasa bahwa menjadi muslim berarti harus menjalani kehidupan yang penuh tekanan.

"Islam itu mudah."

Bagi Gus Baha, kalimat tersebut bukan slogan, tetapi prinsip dasar yang diwariskan Rasulullah.

Ulama Mengajarkan Agama dengan Senyum

Dalam ceramahnya, Gus Baha juga menyoroti tradisi pesantren yang selalu mengajarkan ilmu dengan suasana penuh kehangatan.

Menurutnya, para ulama terdahulu mampu menyampaikan persoalan-persoalan besar tanpa kehilangan senyum dan rasa humor.

Ia mencontohkan bagaimana Mbah Moen sering mengajarkan ilmu berat dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat awam.

Tradisi seperti itulah yang menurutnya perlu terus dipertahankan.

"Kalau orang selesai ngaji malah semakin stres, berarti ada yang perlu dievaluasi."

Baginya, dakwah yang baik justru membuat orang semakin mencintai Allah, semakin semangat beribadah, dan semakin nyaman menjalankan ajaran Islam.

Belajar Agama Tidak Harus Terlihat Rumit

Gus Baha juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah kagum kepada gaya penyampaian ilmu yang sengaja dibuat rumit.

Menurutnya, ukuran kedalaman ilmu bukanlah penggunaan istilah yang sulit dipahami.

Sebaliknya, ulama besar justru mampu menjelaskan persoalan berat dengan bahasa sederhana.

Itulah yang dicontohkan Rasulullah.

Beliau berbicara sesuai kemampuan masyarakat yang mendengarkan.

Karena itu, Gus Baha mengajak para dai dan pendidik untuk meneladani metode dakwah Nabi yang mengutamakan kemudahan dan kedekatan dengan umat.

Islam Hadir Membawa Ketenangan

Menutup pembahasan, Gus Baha kembali menegaskan bahwa agama seharusnya menghadirkan rasa tenang, bukan rasa tertekan.

Menurutnya, seseorang yang benar-benar memahami Islam akan semakin rendah hati, mudah tersenyum, dan tidak gemar mempersulit orang lain.

Ia mengingatkan bahwa Rasulullah berhasil mengubah masyarakat Arab bukan karena membuat agama tampak rumit, tetapi karena menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

"Kalau selesai belajar agama kita justru semakin mudah menyalahkan orang lain, berarti ada yang belum selesai dalam cara kita memahami ajaran Islam."

Pesan itulah yang menjadi benang merah ceramah Gus Baha. Islam adalah agama yang memudahkan, membahagiakan, sekaligus mendidik manusia dengan akhlak. Karena itu, setiap muslim diajak untuk menjalankan agama dengan penuh keseimbangan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dan diwariskan para ulama dari generasi ke generasi. (bersambung)

Sumber: