1 tahun disway

Gus Kikin: Pembaruan Islam Harus Berakar pada Sanad dan Tradisi Ulama

Gus Kikin: Pembaruan Islam Harus Berakar pada Sanad dan Tradisi Ulama

Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim Gus Kikin berjalan bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam forum PMKNU Gresik -PWNU---

GRESIK, DISWAYMALANG.ID–Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan pentingnya menjaga sanad keilmuan sekaligus memperkuat persatuan umat sebagai warisan utama Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari.

Pesan tersebut disampaikan saat bertemu peserta Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang digelar PCNU Kabupaten GRESIK pada 22–26 Juli 2026.

Kegiatan tersebut diikuti 72 peserta dari berbagai daerah, termasuk Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar yang hadir sebagai peserta istimewa.

sanad keilmuan Warisan Pendiri NU

Menurut Gus Kikin, menjaga sanad keilmuan merupakan amanat penting para muassis Nahdlatul Ulama yang harus terus dirawat lintas generasi.

"Warisan penting para muassis atau pendiri NU yang harus terus dirawat secara lintas generasi adalah pentingnya menjaga sanad keilmuan dan menjaga kepemimpinan NU yang mementingkan semangat persatuan," ujar Gus Kikin.

Pengasuh Pesantren Tebuireng itu menjelaskan, KH M Hasyim Asy'ari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Hadratussyaikh merupakan sosok yang berhasil membangun persatuan umat Islam melalui kekuatan sanad keilmuan.

Ia mencontohkan, pada 1942 sekitar 20 ribu tokoh besar maupun kecil di Pulau Jawa tercatat sebagai santri Hadratussyaikh. Hal tersebut menunjukkan luasnya pengaruh sanad keilmuan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sanad Jadi Benteng Menghadapi Tantangan Zaman

Dalam pemaparannya, Gus Kikin juga menyoroti munculnya berbagai paham dan pemikiran baru di tengah masyarakat. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan bagaimana umat tetap memiliki pijakan keagamaan yang jelas melalui sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

"Menjaga, melanjutkan, dan mewariskan sanad merupakan ikhtiar agar mata rantai keilmuan tetap tersambung hingga Hadratur Rasul, sebab ilmu yang lahir dari pemikiran manusia semata tanpa keterhubungan dengan sanad kenabian berpotensi menjauhkan umat dari akar tradisi Islam yang otoritatif," jelasnya.

Ia menambahkan, setiap mata rantai transmisi ilmu memiliki nilai keberkahan sekaligus menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Karena itu, warga Nahdliyin diingatkan agar tidak terputus dari sanad keilmuan para ulama.

Menurut Gus Kikin, Pesantren Tebuireng hingga kini terus menjaga tradisi tersebut melalui pengajaran kitab, pendidikan pesantren, serta penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Pembaruan Harus Berakar pada Tradisi

Gus Kikin menegaskan bahwa pembaruan dalam Islam tidak boleh memutus hubungan dengan tradisi keilmuan para ulama.

"Jika seluruh pembaruan bermuara pada terputusnya sanad dan tercerabutnya akar tradisi, maka yang hilang bukan hanya identitas kita sebagai warga Nahdliyin, tetapi juga keberkahan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi," tegasnya.

Selain menyoroti pentingnya sanad, Gus Kikin juga kembali mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama lahir pada 1926 dengan semangat membangun persatuan berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

"NU lahir tahun 1926 dengan tujuan membangun persatuan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah, yang menjaga keseimbangan lahir dan batin, serta keseimbangan antara aspek kognitif dan afektif," katanya.

Melalui PMKNU, Gus Kikin berharap lahir kader-kader pemimpin NU yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan spiritual dan sosial.

"Banyak hal yang harus kita pikirkan, banyak hal yang harus kita lakukan. Dan yang paling utama adalah bagaimana membangun ukhuwah. Wa'tashimu bihablillahi jami'an wa la tafarraqu," pungkasnya.

Sumber: