1 tahun disway

Jangan Sepelekan! Satu Dosa 'Kecil' Ini Ternyata Bikin Rezeki Seret versi Gus Baha

Jangan Sepelekan! Satu Dosa 'Kecil' Ini Ternyata Bikin Rezeki Seret versi Gus Baha

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. --islami.co--

MALANG, DISWAYMALANG.ID—Banyak orang pada masa kini yang kerap mengeluh tentang rezeki yang terasa seret dan macet. Padahal, merasa sudah kerja banting tulang dari pagi sampai malam. Salat lima waktu tak pernah bolos. Bahkan rutin bersedekah. Tapi kok ya uang rasanya cuma sekadar "numpang lewat".

​Menanggapi fenomena yang sering dikeluhkan masyarakat modern ini, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha memberikan penjelasan yang sangat menohok namun dibawakan dengan renyah dan penuh humor khas pesantren. Menurut ulama kondang asal Rembang, Jateng, ini, ada satu dosa yang sering dianggap sepele dan tak disadari oleh banyak orang, padahal dampaknya bisa menutup keran rezeki rapat-rapat.

​Dosa apakah itu? Jawabannya ternyata sangat sederhana: Suka mengeluh dan lupa bersyukur atas hal-hal kecil.

rezeki Itu Soal Rasa Hati, Bukan Cuma Angka Rupiah

​Dalam sebuah sesi ceramah di hadapan para santri dan jemaah, Gus Baha menjelaskan dengan gaya santainya bahwa Allah Swt sangat menyukai hamba-Nya yang pandai menikmati pemberian-Nya. Sekecil apa pun bentuknya. Sayangnya, manusia sering kufur nikmat karena terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki.

​"Wong nek sering sambat iku tandane gak ridho karo Pengeran. Nek kowe gak ridho karo Gusti Allah, yo Pengeran males ngekeki rejeki. Wong diwenehi irung iso napas gratis wae gak tau matur nuwun, kok njaluk mobil!"

"(Orang kalau sering mengeluh, itu tandanya tidak ridha dengan Allah. Bila Anda tidak ridha dengan Allah, ya Allah malas memberi rezeki. Diberi hidung bisa bernapas gratis saja tidak pernah disyukuri, kok minta mobil, red)," seloroh Gus Baha yang disambut gelak tawa jemaah.

Gus Baha menegaskan, logika rezeki dalam Islam itu unik dan berbeda dengan kalkulasi matematika manusia. Banyak orang berpikir rezeki mampet karena kurang keras membanting tulang, padahal sering penyebab utamanya adalah hati yang sempit dan selalu merasa kurang.

Sikap merasa kurang inilah yang merupakan bentuk nyata dari kufur nikmat —sebuah dosa sepele yang kerap menggerogoti keberkahan hidup seseorang.

​Gaya Hidup Rumit Bikin rezeki "Masuk Angin"

​Menurut santri almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) itu, masyarakat zaman sekarang justru sering membuat hidupnya sendiri menjadi rumit. Hanya karena melihat tetangga membeli mobil baru atau teman mengunggah foto liburan mewah di media sosial, tiba-tiba seseorang bisa merasa hidupnya paling merana di dunia.

​"Iku jenenge (namanya, red) nyiksa (menyiksa, red) diri sendiri," tegas Gus Baha. Ia menambahkan bahwa rezeki sebetulnya sudah dijamin oleh Allah untuk setiap makhluk yang bernapas. Namun, karena manusia sering memelihara sifat iri, dengki, dan menuruti gengsi, rezeki yang sebenarnya sudah cukup dari Allah justru terasa selalu kurang.

​Untuk mengatasi hal tersebut, Gus Baha memberikan beberapa resep sederhana agar pintu rezeki dan keberkahan kembali terbuka lebar:

  • ​Nikmati Nikmat Kecil: Jangan menunggu punya uang miliaran rupiah baru mau tersenyum. Minum kopi hitam hangat di pagi hari sambil bisa bernapas lega tanpa bantuan selang oksigen itu sudah nikmat kelas atas.
  • ​Stop Membanding-bandingkan: rezeki orang lain tidak akan pernah mengambil jatah rezekimu. Sibuk membandingkan hidup hanya akan membuat hati makin panas dan rezeki justru "malas" mendekat.
  • ​Perbanyak Ridho pada Takdir: Terima ketentuan Allah dengan lapang dada sembari terus berikhtiar secara halal. Orang yang hatinya riang dan sumringah jauh lebih disukai Allah daripada orang yang rajin ibadah tapi mukanya selalu cemberut meratapi nasib.

​Pesan Penutup: Jangan Jadi Manusia "Ruwet"

​Di akhir ceramahnya, Gus Baha mengingatkan agar umat Islam tidak menjadi hamba yang "ruwet" atau berbelit-belit dalam menjalani hidup. Agama Islam pada dasarnya mengajarkan kemudahan dan membawa kegembiraan bagi pemeluknya.

​"Nek kowe kepingin rejekimu lancar, syarat pertamane siji: ojo dadi wong sing ruwet! Belajaro seneng karo opo sing diwenehi Gusti Allah dina iki. Wong nek wis pinter syukur, rejeki iku malah ngejar-ngejar kowe, dudu kowe sing ngoyak-oyak rejeki."

("Bila Anda ingin rezeki Anda lancar, syarat pertamanya, satu: jangan jadi orang yang ruwet! Belajarlah senang terhadap apa yang dikaruniakan Allah hari ini. Orang kalau sudah pintar bersyukur, rezeki malah mengejar-ngejar Anda, bukan Anda yang mengejar-ngejar rezeki)," kata Bus Baha.

​Jadi, apabila hari ini rezeki Anda terasa agak mampet, coba introspeksi hati masing-masing. Tadi pagi sudah bersyukur atas napas dan secangkir teh, atau justru sibuk mengeluh melihat pencapaian orang lain?

Sumber: