Rektor UM Dorong Mahasiswa Berani Bertanya, Kampus Tak Boleh Membungkam Nalar Kritis
Rektor UM membuka bedah buku Berpikir Kritis demi Kehidupan yang Lebih Demokratis di Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan UM--
LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID – Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Hariyono MPd menegaskan perguruan tinggi harus menjadi ruang yang melahirkan budaya berpikir kritis dan keberanian bertanya. Menurutnya, kampus tidak boleh menjadi tempat yang membungkam perbedaan pendapat, melainkan harus mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru melalui tradisi akademik yang sehat.
Pesan tersebut disampaikan Hariyono saat membuka bedah buku Berpikir Kritis demi Kehidupan yang Lebih Demokratis di Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan UM, Kamis (9/7/2026). Kegiatan menghadirkan Profesor Emeritus Monash University Ariel Heryanto, dosen UM Ronal Ridhoi SHum MA, serta Yuventia Prisca sebagai narasumber.
Hariyono menilai kemampuan berpikir kritis menjadi fondasi utama bagi perguruan tinggi untuk melahirkan intelektual yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa.
“Saya berharap pikiran Pak Ariel menjadi salah satu ‘virus’ yang tumbuh di UM. Sejak menjadi mahasiswa saya sudah terpapar virus itu melalui tulisan-tulisannya,” ujar Hariyono.
Ia menegaskan ilmu pengetahuan tidak akan berkembang tanpa keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap benar. Mengutip filsuf Yunani Plato, Hariyono mengatakan bahwa pertanyaan merupakan mesin utama perkembangan ilmu pengetahuan.
BACA JUGA:Sinopsis Wind Up: The Movie, Debut Layar Lebar Jeno dan Jaemin NCT Tayang 22 Juli
“Mesin ilmu pengetahuan adalah pertanyaan. Harapan saya, di UM mereka yang suka bertanya tidak dianggap seperti Socrates yang harus minum racun. Justru kampus harus melahirkan semakin banyak intelektual yang kritis sekaligus produktif,” tegasnya.
Menurut Hariyono, budaya akademik yang sehat harus memberikan ruang bagi mahasiswa maupun dosen untuk berdialog, mengkritisi, dan mengembangkan gagasan tanpa rasa takut.
Sementara itu, dosen UM Ronal Ridhoi menjelaskan buku yang dibedah menghimpun sekitar 100 tulisan pilihan Ariel Heryanto yang membahas beragam isu strategis, mulai dari pendidikan, budaya, media, politik hingga demokrasi.
Ia menilai konsistensi Ariel Heryanto menyuarakan pemikiran kritis selama lebih dari empat dekade menjadi teladan bagi kalangan akademisi.
BACA JUGA:Sinopsis Wind Up: The Movie, Debut Layar Lebar Jeno dan Jaemin NCT Tayang 22 Juli
“Pak Ariel sejak era Orde Baru sudah kritis. Memasuki masa reformasi hingga sekarang, beliau tetap konsisten menyampaikan gagasan-gagasan yang mendorong masyarakat berpikir lebih terbuka,” ujarnya.
Ronal juga mengingatkan bahwa tugas akademisi tidak berhenti pada ruang kuliah maupun publikasi ilmiah. Menurutnya, pemikiran ilmiah harus hadir di ruang publik agar mampu memperkaya diskursus masyarakat.
Sumber:

