FKH UB Edukasi Peternak KPSP Sidodadi Terapkan Pengendalian Cacing Berkelanjutan pada Sapi Perah
Tim Pengabdian Masyarakat FKH UB melaksanakan penyuluhan tentang pengendalian helminthiasis atau infeksi cacing dan edukasi peternak sapi perah mitra KPSP Sidodadi, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. -fkh ub--
MALANG, DISWAYMALANG.ID – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengedukasi peternak sapi perah mitra Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Sidodadi mengenai pengendalian cacing berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan kesehatan ternak sekaligus produktivitas susu.
Kegiatan bertajuk "Pengendalian Helminthiasis Berkelanjutan melalui Evaluasi Efektivitas Obat Cacing dan Edukasi Peternak Sapi Perah Mitra KPSP Sidodadi" tersebut dilaksanakan oleh drh Aprilia Rizky Riadini MSc, dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, sebagai bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat DPPSPP Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya Tahun 2026. Kegiatan ini digelar di KPSP Sidodadi, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sabtu (11/7/2026).
Program ini diikuti para peternak sapi perah mitra koperasi dengan dukungan mahasiswa KKN yang memberikan edukasi praktis mengenai pengendalian penyakit parasit pada ternak.
Tim Pengabdian Masyarakat FKH UB melaksanakan penyuluhan tentang pengendalian helminthiasis atau infeksi cacing dan edukasi peternak sapi perah mitra KPSP Sidodadi, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.. -fkh ub--
Helminthiasis atau infeksi cacing masih menjadi salah satu penyakit yang sering luput dari perhatian peternak karena umumnya tidak menunjukkan gejala yang mencolok. Padahal, penyakit tersebut dapat menyebabkan penurunan kondisi tubuh sapi, gangguan pencernaan, anemia, pertumbuhan terhambat, hingga berkurangnya produksi susu.
Dalam penyuluhan tersebut, tim FKH UB menjelaskan berbagai jenis parasit gastrointestinal yang umum menyerang sapi perah, tanda-tanda klinis infeksi, faktor risiko, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan melalui manajemen pemeliharaan yang baik.
Tim juga menekankan bahwa pengendalian cacing tidak cukup hanya dilakukan dengan pemberian obat secara rutin.
Peternak perlu memperhatikan pemilihan jenis obat, ketepatan dosis berdasarkan bobot badan ternak, waktu pemberian, hingga evaluasi efektivitas pengobatan. Penggunaan obat cacing yang tidak tepat berisiko memicu resistensi antihelmintik, yaitu kondisi ketika parasit tidak lagi mempan terhadap obat yang diberikan.
Karena itu, pemeriksaan feses sebelum dan sesudah pengobatan menjadi langkah penting untuk memastikan efektivitas terapi sekaligus mencegah berkembangnya resistensi.
Ketua KPSP Sidodadi, Kusno Hadi, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, koperasi, dan peternak sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas manajemen kesehatan ternak secara berkelanjutan.
Mahasiswa KKN Berikan Edukasi Praktis
Kegiatan ini turut melibatkan empat mahasiswa KKN Universitas Brawijaya yang menyampaikan materi sesuai bidang masing-masing.
Penyerahan cendera mata oleh Tim Pengabdian Masyarakat FKH UB kepada petani mitra KPSP Sidodadi, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. -fkh ub -
Coryna Nisa Sukaya menjelaskan mengenai resistensi antihelmintik, mulai dari penyebab, dampak, hingga strategi pengendaliannya agar penggunaan obat cacing tetap efektif dalam jangka panjang.
Sementara Silvia Adel Patricia Ramadhani mengulas berbagai jenis parasit gastrointestinal beserta dampaknya terhadap kesehatan dan produktivitas sapi perah.
Materi mengenai deteksi dini helminthiasis melalui pengenalan gejala klinis dan faktor risiko disampaikan oleh Anindya Sekar Arawinda Ikbar Rachfi.
Sedangkan Khanifa Dinda Ariyani memberikan edukasi mengenai tata cara pemberian obat cacing yang benar, mulai dari pemilihan obat, perhitungan dosis, waktu pemberian, hingga pentingnya pencatatan dan evaluasi pengobatan.
Keterlibatan mahasiswa tidak hanya menjadi media transfer pengetahuan kepada peternak, tetapi juga memberikan pengalaman lapangan dalam menyampaikan informasi ilmiah secara aplikatif kepada masyarakat.
Dukung Produktivitas Peternakan
Tim FKH UB menegaskan bahwa pengendalian helminthiasis harus dilakukan secara terpadu melalui penerapan biosekuriti, kebersihan kandang, pengelolaan limbah, penyediaan pakan dan air yang berkualitas, serta pemeriksaan kesehatan ternak secara berkala.
Pemeriksaan ternak oleh Tim Pengabdian Masyarakat FKH UB. --fkh ub--
Melalui pendekatan tersebut, peternak diharapkan tidak lagi memberikan obat cacing hanya berdasarkan kebiasaan, melainkan berdasarkan hasil evaluasi kondisi ternak sehingga pengobatan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Selain meningkatkan kesehatan sapi perah, penerapan manajemen pengendalian cacing yang tepat juga diharapkan mampu meningkatkan produksi susu dan kesejahteraan peternak di wilayah Poncokusumo.
Program pengabdian ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produktivitas peternakan, Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengendalian penyakit ternak, Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi peternak, Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penggunaan obat secara rasional, serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, koperasi, dan masyarakat. (kjsm)
Sumber:

