1 tahun disway

Gus Baha: Percuma Puasa dan Haji Jika Masih Pelihara Sifat Ini!

Gus Baha: Percuma Puasa dan Haji Jika Masih Pelihara Sifat Ini!

KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). --laduni.id--

MALANG, DISWAYMALANG.ID—Ibadah puasa yang dijalani dengan menahan lapar seharian, hingga ibadah haji yang menguras air mata, tenaga, dan biaya besar, ternyata bisa berujung sia-sia. Dalam sebuah ceramah yang viral di media sosial, ulama kharismatik asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, memberikan tamparan keras namun jenaka bagi umat muslim yang kerap terjebak pada formalitas ibadah ritual semata.

​Dengan gaya khasnya yang santai, sesekali diselingi tawa renyah, Gus Baha mengingatkan bahwa esensi dari seluruh ibadah dalam Islam adalah perubahan perilaku sosial dan kebersihan hati.

​Ketika Ritual Kehilangan Ruh

Gus Baha menyoroti fenomena di mana banyak orang merasa sudah "aman" di hadapan Allah Swt hanya karena telah menyelesaikan rukun Islam seperti puasa Ramadan atau pergi ke tanah suci. Padahal, di saat yang sama, hubungan mereka dengan sesama manusia justru berantakan.

​"Banyak orang merasa sudah saleh karena dahinya hitam, puasanya penuh, dan sudah naik haji berkali-kali. Tapi di rumah, dia masih pelit kepada tetangga, lisannya tajam menyakiti hati orang lain, bahkan tega memakan hak saudaranya. Ibadah yang seperti itu kehilangan ruhnya," ujar Gus Baha dalam logat Jawa yang kental.

​Menurutnya,  puasa dan haji seharusnya melahirkan sifat tasyabbuh (menyeru) pada sifat-sifat mulia, salah satunya adalah empati dan kasih sayang. Jika seseorang berpuasa namun tidak peka terhadap kelaparan tetangganya. Atau, berhaji namun sepulangnya justru menjadi sombong dan merasa paling suci. Maka, esensi ibadah tersebut telah gagal total.

​Bahaya "Kesalehan Egois"

​Lebih lanjut, Gus Baha menjelaskan konsep kesalehan sosial yang sering dilupakan. Beliau menyentil keras orang-orang yang mengejar ibadah sunnah yang sifatnya individual, namun mengabaikan kewajiban sosial yang berdampak luas.

  • ​Pentingnya Akhlak: Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Hubungan baik dengan manusia (hablum minannas) sering kali menjadi penentu diterima atau tidaknya hubungan kita dengan Allah (hablum minallah).
  • ​Dosa Sosial yang Sulit Terhapus: Berbeda dengan dosa kepada Allah yang bisa diampuni dengan istighfar yang tulus, dosa kepada sesama manusia—seperti memfitnah, menipu, atau menyakiti—tidak akan diampuni sebelum orang yang bersangkutan memberikan maafnya.

​"Kamu sujud nangis-nangis sampai jidatmu hitam meminta ampunan Allah atas dosa kepada tetanggamu, itu tidak akan mempan selama tetanggamu belum memaafkan. Jadi, jangan merasa urusan selesai hanya dengan memperbanyak puasa dan haji," tegas Gus Baha disambut tawa para jemaah.

​Menyeimbangkan Ibadah Ritual dan Sosial

​Di akhir ceramahnya, Gus Baha mengajak seluruh umat Islam untuk melakukan reorientasi dalam beribadah. Gus Baha tidak melarang umat untuk bersemangat puasa maupun mengejar ibadah haji. Namun, menyarankan agar ibadah-ibadah tersebut dijadikan motor penggerak untuk memperbaiki diri di tengah masyarakat.

​Menjadi muslim yang baik berarti menjadi sosok yang kehadirannya membawa kedamaian, keamanan, dan manfaat bagi lingkungan sekitar. Ibadah ritual yang sukses adalah ibadah yang mampu melunakkan hati yang keras, meluaskan tangan untuk memberi, dan menjaga lisan dari menyakiti.

Sumber: youtube