1 tahun disway

Tanah Terus Ambles 0,5 Meter per Tahun, Penanganan Lumpur Lapindo Makin Sulit

Tanah Terus Ambles 0,5 Meter per Tahun, Penanganan Lumpur Lapindo Makin Sulit

Area titik P10D di kawasan Lapindo Sidoarjo, Senin, 13 Juli 2026-Eko Setyawan. -Harian Disway--

SIDOARJO, DISWAYMALANG.ID–Penanganan Lumpur Lapindo di SIDOARJO masih menghadapi tantangan serius. Salah satu kendala utama yang kini dihadapi adalah penurunan muka tanah yang mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun, sehingga memperumit upaya penguatan tanggul di sejumlah titik rawan, termasuk P10D.

Ketua Tim Perencanaan Teknis Pusat Pengendalian Lumpur SIDOARJO (PPLSArif Firmanto mengatakan kondisi geologis kawasan menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan tanah terus berlangsung. Situasi tersebut membuat setiap pekerjaan konstruksi harus melalui perhitungan teknis yang matang.

Menurutnya, karakter tanah di wilayah SIDOARJO yang didominasi endapan sedimen dengan daya dukung rendah membuat kawasan tanggul rentan mengalami ambles, terlebih saat menerima tambahan beban dari material peninggian tanggul.

Dipengaruhi Kondisi Geologi dan Sesar Aktif

Arif menjelaskan, selain karakter tanah, penurunan muka tanah juga dipengaruhi aktivitas dua sesar aktif, yakni Sesar Siring dan Sesar Watukosek.

Kondisi tersebut membuat proses peninggian tanggul tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena berpotensi memicu ketidakstabilan baru.

"Beban timbunan tanggul baru yang kita tempatkan di atasnya memengaruhi stabilitas tanah. Kami harus menghitung kembali struktur elevasi ideal sebelum menerapkan peninggian permanen," ujar Arif.

Tanggul P10D Masih Jadi Prioritas

Saat ini PPLS masih melakukan penanganan darurat di titik P10D, salah satu lokasi yang mengalami rembesan lumpur.

Tim teknis mengerahkan alat berat untuk meninggikan tanggul sekitar satu meter sebagai langkah antisipasi, sembari melakukan kajian lebih lanjut terkait konstruksi permanen.

Meski demikian, peninggian tanggul tetap mempertimbangkan kondisi tanah agar tidak menimbulkan risiko baru terhadap struktur tanggul yang sudah ada.

Pemantauan Dilakukan Sepanjang Area Tanggul

Arif mengungkapkan, meskipun volume semburan lumpur telah menurun dibandingkan masa awal bencana, pengawasan tetap dilakukan secara intensif.

Saat ini volume semburan berada pada kisaran 27.000 hingga 32.000 meter kubik, jauh lebih rendah dibandingkan fase awal bencana yang mencapai sekitar 120.000 meter kubik.

PPLS juga terus memantau kondisi sepanjang sekitar 11 kilometer area tanggul. Berdasarkan hasil evaluasi, sisi selatan relatif lebih stabil, sementara sisi barat, termasuk kawasan P10D, masih memerlukan perhatian khusus.

Mitigasi Difokuskan pada Penguatan Fondasi

Selain melakukan peninggian tanggul, pemerintah bersama tim teknis kini menyiapkan strategi mitigasi jangka panjang melalui penguatan fondasi tanggul.

Langkah tersebut diharapkan mampu menyesuaikan struktur tanggul terhadap laju penurunan tanah yang masih terus terjadi setiap tahun, sehingga sistem pengendalian Lumpur Lapindo dapat tetap berfungsi secara optimal dan aman bagi kawasan di sekitarnya.

Sumber: harian disway