Surplus di Gudang, Panas di Pasar: Drama Harga Cabai Rawit Kabupaten Malang
Harga cabai di Kabupaten Malang saat ini relatif landai dan stabil memasuki Juli 2026, ditopang pasokan panen yang mulai melimpah--agsant | DISway Malang
KARANGPLOSO, DISWAYMALANG.ID--Di balik hamparan kebun apel dan sawah padi yang menjadi ikon Kabupaten Malang, ada satu komoditas mungil yang justru paling banyak bikin pusing para pengambil kebijakan: cabai rawit. Meski secara neraca pangan daerah ini berstatus surplus, harga si merah pedas ini tetap saja menjadi yang paling liar bergerak, naik-turun mengikuti musim, cuaca, dan hari besar keagamaan.
Surplus di Atas Kertas, Tapi Harga Tetap Bikin Deg-degan
Pemerintah Kabupaten Malang sebenarnya punya alasan untuk optimistis.
Dikutip data resmi Pemkab Malang (SI-HARKEPO Diskominfo), per 7 Juli 2026:
- Cabai merah besar: Rp30.000/kg — stabil, tidak ada perubahan dari hari sebelumnya
Harga ini jauh lebih rendah dibanding puncak lonjakan awal 2026, ketika harga sempat menembus Rp80.000–100.000/kg untuk cabai rawit merah. Konteks tren terbaru (skala Jawa Timur/Malang Raya):
- Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 6 Juli 2026 mencatat harga cabai rawit hijau turun 0,1 persen menjadi Rp 50.550 per kilogram, sementara cabai rawit merah tercatat Rp 60.500 per kilogram secara rata-rata nasional.
- Di Kota Malang, harga cabai dilaporkan mulai stabil awal Juli 2026, dengan pasokan yang kembali normal membawa dampak positif bagi masyarakat dan pedagang setelah sempat bergejolak.
- Tren serupa terjadi di beberapa pasar Malang Raya —harga yang sebelumnya sempat menyentuh Rp100.000/kg untuk cabai rawit kini turun ke kisaran Rp60.000/kg, seiring petani di berbagai daerah mulai memasuki masa panen sehingga pasokan melimpah.
BACA JUGA:DPRD Kabupaten Malang Geram Serapan APBD 2026 unutk Infrastruktur Mandek, padahal Banyak Jalan Rusak
Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Cabai rawit tetap tercatat sebagai salah satu penyumbang inflasi terbesar di Kabupaten Malang, bersanding dengan emas perhiasan dan daging ayam ras. Bank Indonesia perwakilan Malang bahkan mencatat bahwa curah hujan yang meningkat pada bulan Maret berisiko menekan produksi hortikultura. Sehingga membuka peluang inflasi pangan kian melebar jelang Lebaran.
Data historis pun mendukung kekhawatiran ini —dalam empat tahun terakhir, cabai rawit selalu menjadi juara bertahan sebagai penyumbang inflasi tertinggi setiap hari besar keagamaan tiba.
Alhasil, harga cabai rawit merah di pasaran sempat menyentuh angka Rp80.000 per kilogram — jauh melampaui harga kebutuhan pokok lainnya seperti beras maupun minyak goreng subsidi.
Ketika Indeks Harga "Naik Turun bak Roller Coaster"
Fluktuasi ini bukan cerita baru. Data Indeiks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Malang menunjukkan pergerakan yang cukup ekstrem sepanjang awal 2026. Pada Januari, indeks sempat anjlok hingga minus tiga poin. Lalu tiba-tiba melonjak lebih dari lima poin hanya dalam hitungan minggu memasuki Februari.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang Erny Fatma Setyoharini menyebut pola ini sebagai "kebiasaan tahunan" yang selalu berulang setiap musim Ramadan tiba, saat lonjakan permintaan bertemu dengan tingginya curah hujan yang mengganggu produksi.
Dari sekian komoditas hortikultura yang dipantau, cabai rawit konsisten menjadi yang paling dominan dalam memicu gejolak harga —mengalahkan daging ayam ras dan bawang merah yang berada di posisi berikutnya.
Petani di Garis Depan Perubahan Iklim
Menyadari ancaman cuaca yang kian sulit ditebak, Pemerintah Kabupaten Malang lewat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan tidak tinggal diam. Awal tahun ini, dinas tersebut menggelar Sekolah Lapang Dampak Perubahan Iklim di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso — sebuah program yang mengajak petani setempat belajar langsung soal bagaimana suhu, kelembapan, dan cahaya memengaruhi setiap fase pertumbuhan cabai, mulai persemaian hingga panen.

Petani cabai rawit di Poncokusumo saat panen, ditemui dilahan sawahnya merasa was - was dengan harga cabai dipasaran--agsant | DISway Malang
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Avicenna M Saniputera ini turut dihadiri Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur Anung Suprayitno, dan diikuti puluhan petani. Fokus utamanya sederhana namun krusial: bagaimana memanfaatkan informasi iklim untuk menentukan waktu tanam yang tepat, sehingga risiko gagal panen bisa ditekan sedini mungkin.
Sumber: dirangkum dari berbagai sumber


