1 tahun disway

Damri Malang–Bromo Masih Jadi Favorit Backpacker, Simak Tarif dan Rutenya

Damri Malang–Bromo Masih Jadi Favorit Backpacker, Simak Tarif dan Rutenya

Seorang backpacker di area sekitar Pendopo Agung Panca Manggala Gatra Nagara Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, setelah naik Damri dari Kota Malang. -screenshot youtube--

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Bus Damri rute Kota Malang–Gunung Bromo menjadi salah satu pilihan transportasi favorit bagi wisatawan yang ingin berlibur ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tanpa harus mengikuti paket open trip. Selain tarif yang relatif terjangkau, layanan ini juga memudahkan backpacker menuju Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, yang menjadi salah satu pintu masuk wisata Gunung Bromo.

Seorang konten kreator perjalanan membagikan pengalamannya menjajal layanan Damri dari Kota Malang menuju Bromo secara mandiri. Perjalanan dimulai dari kawasan Stasiun Malang Baru pintu barat, tempat dirinya dijemput sopir Damri sebelum bus melanjutkan perjalanan menuju titik keberangkatan resmi di Pool Damri.

Menurut pengemudi, secara resmi pembelian tiket hanya dapat dilakukan melalui aplikasi Damri dengan titik keberangkatan dari kantor Damri. Namun, penjemputan di lokasi lain masih dimungkinkan selama berada di jalur yang dilalui armada dan telah dikonfirmasi terlebih dahulu kepada pengemudi.

BACA JUGA:Catat Tanggalnya! Tong Tong Night Market 2026 Hadir Lagi, Usung Tema Punakawan

"Sebenarnya di aplikasi hanya tersedia keberangkatan dari kantor Damri. Kalau penjemputan di luar, harus koordinasi dulu dengan driver," ujar sopir Damri dalam percakapan selama perjalanan.

Hanya Beroperasi Sekali Sehari


Damri dari Kota Malang ke Bromo hanya sekali dalam sehari. -screenshot youtube.--

Damri melayani rute Malang–Bromo sebagai bagian dari layanan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Selain dari Malang, tersedia pula rute serupa dari Surabaya menuju Bromo.

Armada yang digunakan berupa Toyota HiAce berkapasitas sekitar 14 penumpang. Dari Kota Malang menuju Desa Wonokitri, perjalanan menempuh jarak sekitar 60 kilometer melalui Purwodadi, Nongkojajar, Tosari, hingga berakhir di Pendopo Agung Desa Wonokitri.

Pengemudi mengungkapkan saat ini layanan tersebut hanya beroperasi satu kali setiap hari. "Dulu sempat dua kali perjalanan. Sekarang tinggal sekali karena subsidi dikurangi," katanya.

BACA JUGA:Berburu Kuliner Malam Kayutangan Heritage

Meski demikian, tingkat keterisian penumpang disebut tetap cukup tinggi. Tidak hanya wisatawan, sebagian besar pengguna merupakan masyarakat lokal yang beraktivitas di desa-desa sepanjang jalur menuju Wonokitri.

Tiba di Wonokitri, Wisatawan Disambut Penyedia Jasa Wisata

Sekitar pukul 10.18 WIB, rombongan tiba di Pendopo Agung Desa Wonokitri yang menjadi titik akhir perjalanan Damri.

Sesampainya di lokasi, wisatawan langsung disambut sejumlah penyedia jasa wisata yang menawarkan penginapan, sewa motor trail, jeep wisata, hingga ojek menuju kawasan lautan pasir dan kawah Bromo.

Salah seorang penyedia jasa menawarkan penyewaan motor trail seharga Rp350 ribu untuk pemakaian satu hari. "Kalau trail Rp350 ribu untuk satu hari. Bisa dipakai sampai besok siang," ujarnya.

BACA JUGA:Menikmati Sisi Lain Kota Batu, Pesona Wisata Malam Hari di Swiss Kecil Pulau Jawa

Sementara untuk layanan jeep wisata menuju kawasan Bromo, tarif yang ditawarkan mulai sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu tergantung tujuan perjalanan.

Banyak Pilihan Penginapan

Backpacker tersebut memilih tidak langsung menuju kawasan kawah Bromo. Ia memutuskan menginap terlebih dahulu di Desa Wonokitri agar dapat menikmati suasana pegunungan sekaligus berburu matahari terbit keesokan harinya.

Di sekitar Pendopo Agung tersedia cukup banyak homestay dengan tarif bervariasi mulai sekitar Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per malam.

Meski sempat ditawari penginapan secara langsung oleh warga, ia akhirnya memesan penginapan melalui aplikasi daring dengan tarif sekitar Rp280 ribu per malam.

Lokasinya berada tidak jauh dari titik pemberhentian Damri sehingga mudah dijangkau dengan berjalan kaki.

BACA JUGA:Berburu Rasa ke Gang Sempit: 3 Hidden Gem Kuliner Legendaris di Malang yang Wajib Masuk Bucket List Anda!

Sore Hari Menjelajah Bukit Penanjakan

Sebelum berburu matahari terbit keesokan harinya, wisatawan memanfaatkan sore hari untuk menjelajahi kawasan Bukit Penanjakan menggunakan motor trail.

Perjalanan melewati jalan pegunungan dengan udara sejuk dan hamparan ladang milik warga Desa Wonokitri.

Salah satu titik yang dikunjungi adalah Bukit Lemah Pasar yang berada pada ketinggian sekitar 2.680 meter di atas permukaan laut.

Dari lokasi tersebut, wisatawan dapat menikmati panorama Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Widodaren, hingga Gunung Semeru dari ketinggian.

Beruntung, kondisi cuaca sore itu cukup cerah sehingga panorama pegunungan masih terlihat jelas meski kabut mulai turun menjelang petang.

BACA JUGA:Naik Sleeper Bus Malang–Jakarta Kian Diminati, Perjalanan Semalam Lebih Nyaman dengan Tarif Mulai Rp500 Ribuan

"Bagus banget. Besok harus datang pagi-pagi supaya bisa menikmati sunrise," ungkapnya.

Suhu Turun hingga 16 Derajat Celsius

Memasuki malam hari, suhu udara di kawasan Wonokitri semakin dingin. Berdasarkan pengamatan wisatawan, temperatur mencapai sekitar 16 derajat Celsius pada pukul 22.12 WIB.

Karena itu, wisatawan yang hendak berkunjung disarankan menyiapkan jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, hingga kaus kaki agar tetap nyaman saat beraktivitas di kawasan Bromo.

Berbagai perlengkapan musim dingin tersebut juga mudah ditemukan di kios-kios sekitar Wonokitri, baik untuk dibeli maupun disewa.

BACA JUGA:Kehangatan Tape Ketan Hitam di Tengah Dinginnya Pemandian Air Panas Cangar Kota Batu

Dengan adanya layanan Damri, wisatawan kini memiliki alternatif transportasi umum menuju Bromo tanpa harus menyewa kendaraan pribadi ataupun mengikuti paket wisata. Meski hanya tersedia satu kali perjalanan setiap hari, layanan ini tetap menjadi pilihan menarik bagi backpacker yang ingin menikmati keindahan Gunung Bromo secara mandiri.

Sumber: youtube vlog adie