Warga Kelurahan Temas, Kota Batu, Gelar Ritual Pengambilan Sumber
Lurah beserta Istri memasukan air dari sumber yang ada di Temas untuk disatukan di Genthong-panca rp-Pem Temas
BATU, DISWAYMALANG.ID–Dalam rangka melestarikan adat leluhur dan mempererat tali silaturahmi, Kelurahan Temas, Kota Batu menggelar prosesi ritual adat pengambilan air sumber yang ada di RW yang dikenal dengan sebutan Mendak Tirto. Kegiatan tradisi ini melibatkan seluruh elemen masyarakat dari masing-masing Rukun Warga (RW) di wilayah Kelurahan Temas.
Pamong Kelurahan Temas Wahyu Hari Purnomo saat ditemui pada Jumat (3/7/2026), menjelaskan bahwa prosesi ritual ini berlangsung khidmat dengan mengikuti tahapan yang sudah menjadi garis tradisi turun-temurun.
BACA JUGA:Proyek Preservasi Simpang Patih Kota Batu Dimulai, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Rangkaian Prosesi: Dari Sumber Air Menuju Mendak Tirto
Rangkaian ritual dimulai pada pagi hari. Perwakilan masing-masing RW bergerak menuju sumber air lokal yang ada di lingkungan mereka. Air bersih yang diambil dari sumber dimasukkan dalam kendi menjadi simbol keberkahan dan keberlanjutan hidup masyarakat setempat.
Air tersebut kemudian dikemas dengan cara tradisional. "Sore harinya, sekitar pukul dua (14.00 WIB), air-air yang sudah dimasukkan ke dalam kendi dari setiap RW dibawa ke tingkat kelurahan, tepatnya di area Mendak Tirto," ujar Wahyu.
BACA JUGA:Specta Flora Festival 2026 Kuatkan Citra Kota Batu sebagai Pusat Florikultura
Di lokasi Mendak Tirto inilah, seluruh air yang dibawa oleh masing-masing RW dicampur dan disatukan ke dalam satu Genthong (wadah besar). Proses penyatuan ini melambangkan persatuan, gotong royong, dan hilangnya sekat antarwarga demi kemajuan Kelurahan Temas.
Prosesi penyatuan air pada sore hari tersebut didampingi dan dipimpin langsung oleh Mas Jojon, seorang pelaku budaya sekaligus pimpinan sanggar seni.
Khidmat Doa dan Selawat Nariyah di Malam Hari
Puncak kekhidmatan ritual berlanjut pada malam hari. Warga berkumpul untuk menggelar doa bersama dan membacakan Selawat Nariyah 4.444 kali.
BACA JUGA:Banyak Warga Khawatir, Wakil Wali Kota Batu Tegaskan Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Urusan Pajak
Air yang telah disatukan pada sore hari diletakkan di tengah-tengah majelis untuk didoakan bersama. Selain pembacaan selawat, untaian doa khusus (doa infaso) juga dipanjatkan yang dipimpin langsung oleh tokoh agama setempat, Abah Faqih.
Keberkahan Air untuk Warga dan Tradisi Memasak Akbar
Setelah seluruh rangkaian doa dan selawat selesai, air suci yang telah didoakan tersebut memiliki nilai sakral tersendiri bagi masyarakat. Wahyu Hari Purnomo menyebutkan bahwa pihak kelurahan mempersilakan warga maupun pengurus lingkungan yang ingin mengambil kembali air tersebut untuk dibawa pulang.
BACA JUGA:Tradisi Atur Tumpeng Bulu Bekti Meriahkan HUT ke-170 Desa Pesanggrahan, Kota Batu
"Warga bebas memanfaatkannya sesuai dengan niat dan kebutuhan masing-masing, karena setiap lingkungan tentu memiliki karakteristik dan kebudayaan yang bermacam-macam," tuturnya.
Menariknya, sisa air yang dikumpulkan di kelurahan tidak dibuang begitu saja. Air tersebut dialokasikan untuk menyukseskan acara sosial masyarakat berikutnya. Sebagian air akan digunakan dalam ritual memandikan kerbau. Sebagian besar lainnya akan digunakan sebagai air utama dalam acara memasak akbar (masak umum) untuk konsumsi warga.
Melalui ritual Mendak Tirto ini, Kelurahan Temas tidak hanya sekadar menjalankan seremonial adat, melainkan menanamkan kembali nilai-nilai luhur tentang pentingnya menjaga kelestarian sumber air sebagai sumber kehidupan, serta merawat kerukunan warga melalui doa dan gotong-royong.
Sumber:


