Harga Telur Anjlok Dipicu Minimnya Serapan oleh MBG, ‘Libur Hajatan’ Bulan Suro, dan Libur Sekolah
MBG libur, harga telur di Jatim anjlok, para peternak mengalami kerugian-AI Generated---
BLITAR, DISWAYMALANG.ID–Ribuan peternak ayam petelur di Blitar serta daerah lain di Jatim terus merugi. Pasalnya, harga jual telur di tingkat produsen terus merosot tajam, hingga menyentuh angka Rp17.000 per kilogram. Biaya operasional tak tertutupi oleh harga jual di pasaran.
"Beternak saat ini, kami hanya menghitung kerugian. Bukan lagi menghitung keuntungan," ujar Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofiyasifun dikutip hariandisway.id, Minggu (28/9/2026)
Menurut Rofiyasifun, panggilannya, untuk mendapatkan margin keuntungan yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya minimal Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.
Setidaknya, kata Rofiyasifu,n ada tiga faktor utama yang memicu anjloknya harga telur saat ini. Pertama, minimnya serapan telur untuk program Makan Bergizi (MBG). Kedua, bertepatan dengan momen bulan Suro dalam kalender Jawa yang secara historis membuat tingkat konsumsi atau serapan pasar menurun drastis karena berkurangnya hajatan.
Ketiga, bertepatan dengan masa libur panjang sekolah. "Orang tua saat ini lebih memprioritaskan biaya pendaftaran sekolah anak daripada konsumsi telur. Selain itu, banyak masyarakat yang sedang liburan," jelasnya.
Yang membuat peternak lebih geram adalah kebijakan penghentian distribusi telur untuk program MBG selama masa libur sekolah. Rofiyasifun menilai, Surat Edaran (SE) yang menghentikan operasional dapur MBG selama libur sekolah sangat merugikan peternak.
"Juknis BGN sebenarnya menyatakan pelayanan tetap berjalan. Tapi di SE operasional, begitu libur sekolah, dapur MBG ikut diliburkan total. Ini yang membuat serapan hilang," tegasnya.
Menanggapi disparitas harga yang lebar antara harga di produsen Rp17.000 dan eceran pasar Rp22.000-Rp25.000 Rofiyasifun mengaku heran. Ia menyentil fenomena yang menurutnya tidak lazim dalam hukum ekonomi.
"Indonesia katanya swasembada telur dan daging ayam, tapi harganya hancur. Sebaliknya, beras dan jagung katanya swasembada, harganya malah tinggi. Ini mulut pejabat atau hukum ekonomi yang salah? Padahal, supply dan demand adalah instrumen paling jujur dalam ekonomi," sindir Rofiyasifun.
Akibat kondisi ini, sejumlah peternak kecil mulai berencana mengambil langkah nekat dengan melakukan aksi jual langsung ke pinggir jalan mulai awal pekan depan.
Mereka terpaksa memotong rantai distribusi untuk mendapatkan harga yang lebih layak, yakni di kisaran Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram. "Besok akan ada aksi jual telur di jalan-jalan oleh pertenak di daerah Blitar, Tulunggangung, dan Kediri," katanya.
BACA JUGA:Prabowo Perintahkan Evaluasi Menu MBG: Jangan Potong Ayam Terlalu Kecil, Telur Jangan Didadar
Sumber:


