Bumiaji mBubur Suro, Uri-uri Budaya Tanpa Sampah Plastik
Selamatan Desa Bumiaji dengan nuansa tempo doeloe-panca rp-
BUMIAJI, DISWAYMALANG.ID–Pemerintah Desa Bumiaji kembali menggelar rangkaian acara selamatan desa yang sarat akan makna budaya dan kelestarian alam. Mengusung tema besar "Hametri Bumi Kang Aji", perhelatan tahun ini tampil beda dengan komitmen kuat menjaga kelestarian lingkungan. Seluruh rangkaian acara dirancang steril dari penggunaan bahan-bahan nonramah lingkungan seperti styrofoam dan banner plastik.
Muhammad Wildan Abdulloh, selaku Kasi Pelayanan Pemerintah Desa Bumiaji sekaligus penanggung jawab Kegiatan, menjelaskan bahwa esensi utama dari tema tahun ini adalah refleksi mendalam atas ruang hidup yang mereka tinggali.
"Melalui tema 'Hametri Bumi Kang Aji' ini, kami ingin mengetuk kesadaran bersama untuk bersyukur atas segala kenikmatan, kesehatan, dan kesempatan hidup yang diberikan di desa ini. Selamatan desa ini fokus utamanya adalah menjaga dan melestarikan wilayah Bumiaji —baik buminya maupun seluruh alamnya— supaya bisa membawa keberkahan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat," ungkap Wildan di sela-sela persiapan acara.
BACA JUGA:Ratusan Warga Songgoriti 'Nyawiji' dalam Tradisi 'Njenang Bareng' Sambut Bulan Suro
Nuansa Tempo Dulu dan Standar Ketat Ramah Lingkungan
Ada yang unik dalam gelaran kali ini. Jika biasanya acara selamatan desa dikemas secara biasa, tahun ini area utama diubah layaknya perkampungan zaman dulu. Pihak panitia menerapkan aturan ketat bagi setiap stan yang didirikan oleh warga di wilayah rest area.
Spanduk digital (banner) dan wadah makanan berbahan styrofoam dilarang keras. Sebagai gantinya, masyarakat dituntut kreatif menggunakan bahan-bahan alam yang dapat didaur ulang seperti bambu, dedaunan, dan kayu bekas.
Keselarasan konsep tempo dulu ini sengaja diperkuat untuk mengembalikan memori kolektif masyarakat terhadap cara hidup leluhur yang selalu harmonis dengan alam sekitar.
BACA JUGA:Teror Mistis di Desa Pesisir ‘Sengkolo: Petaka Satu Suro’, Begini Sinopsisnya
Rangkaian Acara: Dari Kuliner Murah hingga Sedekah Bumi
Rangkaian acara sakral ini dibuka dengan tradisi pembuatan dan pembagian Jenang Suro, Kamis (25/6/2026), yang menjadi simbol perekat kebersamaan warga. Setelah fokus pada keheningan tradisi Jenang Suro, kemeriahan akan berlanjut keesokan harinya melalui Pasar Kuliner Tradisional.
"Pembuatan bubur suro dimulai pada pukul 10.00 kemungkinan akan selesai pukul 18.30 dan langsung kita sajikan kepada masyarakat, setelah doa," ujar Wildan.
Pasar kuliner ini akan dimulai pada pukul 13.00 WIB hingga malam hari. Uniknya, pihak panitia membatasi harga maksimal makanan sebesar Rp10.000 agar ramah di kantong semua kalangan. Selain itu, koordinasi ketat antar-RW telah dilakukan guna memastikan menu jajanan yang disajikan bervariasi dan tidak ada yang kembar.
BACA JUGA:Selamatan 1 Suro di Sumber Sandiyo, Warga Wiyurejo Pujon Syukuran Melimpahnya Air
Puncak dari seluruh rangkaian selamatan desa ini akan terjadi pada Sabtu mendatang lewat tradisi Murak Berkat Hasil Bumi. Mulai pukul 12.00 WIB hingga selesai, gunungan hasil pertanian melimpah dari Desa Bumiaji akan diarak mengelilingi desa.
Rute kirab budaya ini terbilang cukup panjang dan akan menyapa warga di empat dusun yang ada di Desa Bumiaji sekaligus. Perjalanan dimulai dari Tlogorejo, bergerak melewati Dusun Binangun, Dusun Banaran, lalu menuju Mberu.
Dari Mberu, iring-iringan kirab akan berjalan melingkar kembali ke Banaran, menyisir Binangun, dan mengakhiri perjalanannya di titik finish yang berpusat di rest area.
Melalui tradisi Murak Berkat, seluruh hasil bumi tersebut nantinya akan disedekahkan dan dibagikan secara gratis kepada seluruh warga yang hadir. Langkah ini diambil bukan sekadar sebagai tontonan budaya, melainkan wujud nyata dari filosofi jawa, yakni pamrih berkat ridhane Gusti —semata-mata untuk mengetuk pintu langit demi mendapatkan rida dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Bumiaji senantiasa makmur, subur, dan dijauhkan dari marabahaya.
Sumber:


