1 tahun disway

Tidur yang Benar menurut Gus Baha: Bukan Sekadar Istirahat, tapi Jalan Menuju Mimpi yang Bermakna

Tidur yang Benar menurut Gus Baha: Bukan Sekadar Istirahat, tapi Jalan Menuju Mimpi yang Bermakna

KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)-ist-

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Tidur sering dianggap sebagai aktivitas rutin untuk menghilangkan lelah setelah seharian beraktivitas. Namun, menurut ulama kharismatik asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, tidur memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam dan tidak boleh dipandang sekadar sebagai kebutuhan biologis semata.

Dalam salah satu ceramahnya, Gus Baha menjelaskan bahwa tidur merupakan keadaan ketika manusia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Saat seluruh sistem saraf beristirahat, manusia tidak lagi mampu mengatur pikiran, keinginan, maupun apa yang akan ia mimpikan. Pada kondisi itulah, kata Gus Baha, manusia sepenuhnya berada dalam kuasa Allah Swt. 

BACA JUGA:Pesan Gus Baha Sambut Bulan Muharram: Hormati Bulan Mulia dengan Ibadah dan Kegembiraan

Karena itu, Gus Baha menekankan pentingnya menjalankan adab-adab sebelum tidur sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw. Di antaranya adalah berwudu, membaca doa dan wirid, serta tidur menghadap kiblat. Menurutnya, tata cara tersebut bukan sekadar ritual, namun bentuk kepasrahan total seorang hamba kepada Allah. 

"Kalau tidurnya benar, pakai wudhu, membaca doa, dan menghadap kiblat, maka seseorang berada dalam kondisi yang sangat pasrah kepada Allah," demikian inti penjelasan Gus Baha dalam ceramahnya. 

Lebih lanjut, Gus Baha mengungkapkan bahwa mimpi memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Tidak semua mimpi hanyalah bunga tidur. Ada mimpi-mimpi tertentu yang dapat menjadi pertanda atau isyarat dari Allah SWT, terutama jika seseorang tidur dalam keadaan suci, berdzikir, dan memiliki kondisi batin yang baik. 

BACA JUGA:Gus Baha: Puasa Sunnah seperti Ibadah Wali, Ditunaikan Murni Karena Senang kepada Allah

Menurut Gus Baha, seseorang tidak mungkin mengatur isi mimpinya sendiri. Seorang yang ingin bermimpi indah belum tentu mendapatkan mimpi sesuai keinginannya. Hal itu menjadi bukti bahwa mimpi berada di luar kendali manusia dan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah Swt. 

Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengajarkan berbagai doa dan wirid sebelum tidur. Salah satu yang populer adalah membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali sebagaimana yang diajarkan Nabi kepada Sayyidah Fatimah. Wirid tersebut diyakini dapat menenangkan hati sekaligus menjadi bentuk penyerahan diri kepada Allah sebelum terlelap. 

Meski demikian, Gus Baha mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan mimpi sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan hidup. Mimpi yang baik dapat menjadi kabar gembira atau pengingat, tetapi tetap harus disandingkan dengan akal sehat, ilmu, dan tuntunan syariat. 

BACA JUGA:Rayakan Hari Jadi ke-172, Kelurahan Temas Gelar Selamatan Desa 'Hormati Bumi Kejarlah Langit'

Bagi Gus Baha, yang paling penting bukanlah mengejar mimpi yang indah atau mencari-cari tafsir mimpi, melainkan mempersiapkan tidur sebagai bagian dari ibadah. Ketika seseorang tidur dalam keadaan suci, berdzikir, dan memasrahkan diri kepada Allah, maka tidurnya tidak hanya menjadi sarana istirahat, tetapi juga menjadi jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. 

Dengan demikian, tidur yang benar menurut Gus Baha bukan hanya membuat tubuh kembali segar, tetapi juga membuka peluang hadirnya mimpi yang baik dan penuh makna. Sebab dalam tidur yang disertai adab dan dzikir, seorang hamba belajar menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah Swt.

Sumber: youtube