1 tahun disway

Mengapa Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasan Medis terkait Sistem Saraf Cermin dan Otak

Mengapa Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasan Medis terkait Sistem Saraf Cermin dan Otak

Ilustrasi Seseorang yang sedang Menguap (Yawning)--Calm Clinic

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Menguap secara spontan saat tubuh merasa lelah atau mengantuk adalah hal yang lumrah. Namun, ada satu fenomena unik yang hampir pasti pernah dialami semua orang: ikut menguap ketika melihat, mendengar, atau bahkan sekadar membaca kata menguap.

Fenomena yang dikenal secara medis sebagai contagious yawning atau menguap yang menular ini telah lama menjadi objek penelitian ilmiah yang menarik. Jauh dari sekadar kebetulan, para ahli saraf dan psikolog dunia menegaskan bahwa reaksi refleks ini melibatkan mekanisme kerja otak yang sangat kompleks terkait dengan empati sosial dan sistem saraf tiruan.

Penjelasan ilmiah dari jurnal penelitian yang dirilis National Institutes of Health di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat menyatakan, penyebab utama mengapa kita ikut menguap saat melihat orang lain menguap adalah karena adanya aktivitas dari komponen otak yang disebut mirror neuron system atau sistem saraf cermin.

BACA JUGA:Tips Menjaga Hidrasi dan Kesehatan Kulit di Tengah Cuaca Ekstrem

Sel saraf khusus ini berfungsi meniru atau memetakan tindakan yang dilakukan oleh individu lain di sekitar kita ke dalam otak kita sendiri. Ketika mata kita menangkap visual orang lain sedang menguap, mirror neuron secara otomatis merespons visual tersebut. Lalu memerintahkan otot-otot wajah kita untuk melakukan gerakan refleks yang sama secara tidak sadar.

Selain keterlibatan sel saraf cermin, tingkat penularan menguap ini ternyata berkaitan erat dengan kedalaman emosional dan kapasitas empati seseorang. Merujuk pada studi perilaku dari Psychology Today di Newyork, AS, contagious yawning dinilai sebagai bentuk komunikasi non-verbal evolusioner untuk menyelaraskan kondisi mental dalam sebuah kelompok sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa dorongan untuk ikut menguap akan jauh lebih kuat terjadi jika orang yang kali pertama menguap adalah anggota keluarga, teman dekat, atau pasangan kita, dibandingkan dengan orang asing. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi ikatan emosional dan kemampuan empati seseorang terhadap sesamanya, semakin sensitif pula otak mereka untuk tertular menguap.

BACA JUGA:Mengungkap Fakta Medis Bintitan: Bukan karena Mengintip atau Meminta Kembali Barang, Melainkan Infeksi Bakteri

Melengkapi temuan tersebut, para pakar saraf dari Harvard Medical School juga menambahkan aspek fisiologis dari fenomena ini. Menguap secara biologis berfungsi untuk mendinginkan suhu otak dan meningkatkan kewaspadaan tubuh saat pasokan oksigen mulai menurun.

Ketika satu individu di dalam kelompok menguap karena kelelahan, dorongan menular ini bertindak sebagai mekanisme adaptasi agar seluruh anggota kelompok ikut meningkatkan kewaspadaan mereka secara bersamaan.

Para ilmuwan juga mencatat bahwa penularan menguap ini baru mulai berkembang pada manusia saat menginjak usia 4 hingga 5 tahun. Yaitu fase di mana area otak anak yang mendeteksi dan memproses emosi orang lain sudah mulai matang.

BACA JUGA:Di Balik Baunya yang Menyengat, Buah Mengkudu Simpan Segudang Manfaat Menakjubkan bagi Kesehatan

Sumber: ncbi.nlm.nih.gov