Dinkes Kota Batu: Kasus Kanker Payudara 2026 Turun Tipis, 2 Pasien Meninggal
Ilustrasi Kanker Payudara -istimewa -
BATU, DISWAYMALANG.ID–Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat adanya fluktuasi jumlah penderita kanker payudara dalam dua tahun terakhir. Untuk tahun 2026, data terbaru menunjukkan setidaknya 73 warga terdiagnosis positif kanker payudara dan tengah menjalani perawatan.
Jumlah itu sedikit lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025, Dinkes mencatat 75 pasien kanker payudara yang mendapat perawatan intensif. Namun di tengah penurunan kasus, ada kabar duka karena 2 orang di antaranya tidak bisa bertahan dan meninggal dunia.
BACA JUGA:Deteksi Dini Kanker Serviks Digencarkan, 25 Perempuan di Kota Malang Hasil IVA Positif
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu dr. Icang Sarrazin menilai fluktuasi angka ini tak lepas dari rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap tanda-tanda awal.
“Tingginya kasus kanker payudara umumnya dipicu kurangnya kesadaran orang melihat gejala. Karena pertumbuhan sel kanker biasanya tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali,” ungkapnya, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, gejala paling sering muncul berupa benjolan di area payudara atau ketiak. Selain benjolan, perubahan fisik pada puting juga perlu jadi perhatian. Contohnya puting yang tiba-tiba tertarik ke dalam, atau keluar cairan tidak normal berwarna darah maupun kuning kehijauan. Cairan tersebut, tegas dr Icang patut dicurigai jika keluar sendiri tanpa dipencet.
BACA JUGA:Ternyata Gaya Hidup Sehari-hari Bisa Bantu Tubuh Lawan Sel Kanker Lho! Ini Penjelasannya
“Benjolan yang paling umum keras, bentuk permukaannya tidak rata, dan tidak terasa nyeri,” jelasnya.
Dokter Icang menjelaskan, saat sudah masuk stadium lanjut, keluhan pasien biasanya semakin berat. Benjolan terasa makin besar dan nyeri. Komplikasi lain yang sering muncul antara lain pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak dan luka di payudara yang susah sembuhm
"Pasien juga akan mengalami berat badan turun drastis tanpa sebab, badan gampang lelah, sampai nyeri tulang dan sesak napas," urai dr Icang.
Secara medis, kanker payudara terjadi karena pertumbuhan sel payudara abnormal dan tidak terkendali akibat mutasi gen. Meski identik dengan perempuan, dr. Icang menegaskan laki-laki juga berpotensi terkena, meski kasusnya sangat jarang.
BACA JUGA:2.500 Warga Jadi Target, Wali Kota Malang Gratiskan Pemeriksaan Kanker Serviks di 16 Puskesmas
“Pernah saya temui kasusnya menjangkit laki-laki, tapi jumlahnya sangat sedikit,” jelasnya.
Kanker payudara memang tidak menular, tetapi dr. Icang menekankan kecepatan penanganan menjadi faktor utama. Semakin awal terdeteksi, semakin besar peluang sembuh dan bertahan hidup.
Sumber:

