1 tahun disway

Fakta di Balik Stereotipe 'Kucing Putih Bloon': Faktor Gangguan Pendengaran Genetik

Fakta di Balik Stereotipe 'Kucing Putih Bloon': Faktor Gangguan Pendengaran Genetik

--RRI

MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Di media sosial maupun obrolan para pencinta hewan, kucing berbulu putih solid sering mendapat stereotipe atau julukan sebagai kucing yang 'bloon', telat merespons, atau acuh tak acuh terhadap panggilan pemiliknya. Namun, dunia sains veteriner (kedokteran hewan) membuktikan bahwa perilaku tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan atau kemampuan kognitif si kucing. Namun akibat adanya gangguan pendengaran bawaan sejak lahir (congenital sensorineural deafness).

Secara genetika, kucing yang memiliki bulu putih seluruhnya membawa sebuah gen dominan yang disebut Gen W (White). Gen ini bersifat pleiotropik. Artinya, satu gen tunggal mampu memengaruhi beberapa karakteristik fisik sekaligus pada tubuh kucing. Mulai warna rambut, warna pigmen mata, hingga perkembangan organ dalam telinga mereka.

BACA JUGA:9 Rekomendasi Pasir buat Anabul di Rumah

Berdasarkan data penelitian dan publikasi resmi dari Cornell University College of Veterinary Medicine (Cornell Feline Health Center), Gen W bekerja dengan cara menekan sel melanosit (sel pigmen) saat janin kucing sedang berkembang. Ketiadaan sel melanosit ini tidak hanya menyebabkan rambut kucing tumbuh tanpa warna alias putih bersih. Tetapi juga memicu degenerasi atau penyusutan pada struktur stria vascularis di dalam koklea (rumah siput) telinga kucing dalam beberapa minggu pertama setelah mereka lahir.

Akibat penyusutan organ dalam ini, aliran sinyal suara ke otak menjadi terputus, menyebabkan sang kucing mengalami tuli permanen. Baik pada salah satu telinga (unilateral) maupun kedua telinga sekaligus (bilateral).

Karena tidak bisa mendengar suara di sekitarnya, kucing putih sering tidak menengok saat dipanggil. Mudah terkejut saat didekati dari belakang. Atau, mengeong sangat keras karena tidak bisa mengukur volume suara sendiri —sebuah kombinasi perilaku yang secara keliru sering dianggap sebagai tanda 'kebingungan' atau 'bloon' oleh manusia.

BACA JUGA:Serupa tapi Tak Sama, Para Pecinta Kucing Wajib Tahu Perbedaan Ras Ragdoll, Siamese, dan Himalaya

Risiko gangguan pendengaran ini juga terbukti meningkat drastis apabila kucing putih tersebut memiliki mata berwarna biru. Publikasi data klinis dari lembaga riset kesehatan kucing internasional, International Cat Care (iCatCare), menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara warna mata dan persentase ketulian.

Kucing putih dengan mata berwarna non-biru (seperti hijau atau kuning) hanya memiliki risiko tuli sekitar 17 hingga 22 persen. Namun, angka tersebut melonjak hingga 40 persen pada kucing putih bermata ganjil (odd-eyed, satu mata biru). Dan, mencapai 65 hingga 85 persen pada kucing berbulu putih yang kedua matanya berwarna biru jernih.

Oleh karena itu, para ahli perilaku hewan menyarankan pemilik kucing putih untuk melakukan tes Brainstem Auditory Evoked Response (BAER) di klinik guna memastikan kondisi pendengarannya. Dengan memahami kondisi medis ini, pemilik dapat mengubah cara berkomunikasi dengan memanfaatkan getaran lantai atau isyarat cahaya, sehingga julukan keliru mengenai kapasitas kecerdasan kucing putih dapat diluruskan secara ilmiah.

BACA JUGA:Menjaga dan Melacak Hewan Peliharaan, 5 Gadget Pintar ini Bisa Diandalkan

Sumber: icatcare.org