65 Pemuda Lintas Agama Jelajahi Situs Singhasari, Belajar Toleransi dari Warisan Sejarah Malang
Sebanyak 65 pemuda lintas agama dan lintas daerah mengikuti program Peace Heritage Trip di kawasan Situs Singhasari, Kabupaten Malang,--
SINGOSARI, DISWAYMALANG.ID – Sebanyak 65 pemuda lintas agama dan lintas daerah mengikuti program Peace Heritage Trip di kawasan Situs Singhasari, Kabupaten Malang, Minggu (14/6). Kegiatan yang digagas Peace Leader Indonesia bersama Rumah Edukasi Creative dan Komunitas Masyarakat Adat Singhasari itu menjadi ruang pembelajaran toleransi dan perdamaian melalui pendekatan sejarah serta budaya.
Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai mahasiswa asal Malang, Madiun, hingga Nusa Tenggara Timur, termasuk samanera dan atthasila dari Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Batu. Mereka mengunjungi sejumlah situs bersejarah seperti Pura Bhuana Kertha, Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan Candi Sumberawan.
Selain melakukan jelajah sejarah, peserta juga mengikuti dialog budaya dan kesetaraan gender bersama Tuswati atau Bu Tusi, pendiri Patirtan Sumberawan. Dalam sesi tersebut, Bu Tusi berbagi pengalaman membangun ruang spiritual yang terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat dan menjadi simbol hubungan harmonis lintas iman.
BACA JUGA:Promo Wuling Air EV Juni 2026: DP Rp15 Juta, Harga Diskon Tembus Rp200 Jutaan di Pondok Indah
Ketua Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, mengatakan Singosari dipilih karena memiliki kekayaan sejarah dan keberagaman yang dapat menjadi sarana belajar toleransi bagi generasi muda.
Menurutnya, kawasan tersebut menyimpan berbagai peninggalan penting, mulai Candi Singosari yang menjadi simbol kejayaan Kerajaan Singhasari, Arca Dwarapala sebagai salah satu patung penjaga terbesar di Indonesia, hingga Candi Sumberawan yang menjadi pusat perayaan Waisak umat Buddha di Kabupaten Malang.
Selain itu terdapat Pura Bhuana Kertha di Kompleks Kertanegara Lanud Abdulrachman Saleh yang sejak dibangun pada 1975 menjadi simbol kerukunan dan harmoni kehidupan beragama di wilayah Singosari.
“Keberadaan situs sejarah dan tempat ibadah dari berbagai tradisi agama menjadikan Singosari sebagai laboratorium sosial yang sangat baik untuk belajar tentang sejarah, toleransi, keberagaman, dan perdamaian,” kata Redy.
BACA JUGA:Wuling Air EV Bekas Layak Dibeli? Odometer 40 Ribu Km, Battery Health Masih 92,5 Persen
Ia menjelaskan, program Peace Heritage dirancang untuk mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan identitas sosial guna memahami nilai-nilai perdamaian yang terkandung dalam warisan sejarah dan budaya Indonesia.
Melalui kunjungan lapangan, dialog lintas iman, serta diskusi bersama tokoh masyarakat, peserta diajak membangun perspektif yang lebih inklusif terhadap keberagaman.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu mempraktikkan nilai toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
BACA JUGA:Wisudawan FBIPK Peraih Juara Internasional, Kini Emban Tugas Denok Kenang Semarang
Sumber:

