DLH Kota Batu Sidak Peternakan di Tlekung: Tegaskan IPAL Jadi Solusi Mutlak Konflik Limbah
DInas Lingkungan Hidup Kota Batu saat melihat kondisi lapangan terkait limbah kotoran sapi yang dikeluhkan warga.-ist-
JUNREJO, DISWAYMALANG.ID--Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu merespons konflik sosial akibat pencemaran limbah kotoran sapi di permukiman padat RT 06 RW 06, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. Langkah taktis berupa inspeksi mendadak (sidak) dilakukan guna mengurai benang kusut polusi udara dan air yang telah bertahun-tahun meresahkan warga.
Sidak ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk menegaskan pentingnya standardisasi sanitasi peternakan di kawasan domestik. Berdasarkan kajian DLH, akumulasi gas metan (CH_4) dan amonia (NH_3) dari kotoran ternak dalam konsentrasi tinggi terbukti memicu risiko kesehatan serius, mulai iritasi saluran pernapasan (ISPA) hingga penurunan drastis kualitas hidup masyarakat sekitar.
Keluhan Warga: Bertahun-tahun Terkurung Bau Busuk
Bagi warga terdampak, kehadiran tim DLH menjadi secercah harapan setelah sekian lama menahan dampak buruk limbah yang mengalir di got depan rumah mereka. Kharisma, salah seorang warga yang juga berprofesi sebagai jurnalis, membeberkan bagaimana keluarganya harus bertahan di tengah kepungan bau menyengat yang kerap memicu mual dan pusing.
BACA JUGA:295 Pelajar SD/MI Adu Prestasi di O2SN Kota Batu 2026
"Terus terang ini sudah bertahun-tahun, baunya sangat menyengat. Apalagi saya sekeluarga malu kalau ada tamu karena tercium bau kotoran sapi. Ditambah ibu saya yang sedang sakit juga merasa terganggu, hingga mengalami sesak nafas," keluh Kharisma.
Kondisi ini kian diperparah karena limbah cair tersebut mengalir tanpa kenal waktu, baik pagi, siang, sore, maupun malam. Bahkan, saat tampungan limbah peternak penuh, cairan kotor itu merembes hingga ke tembok halaman rumahnya.
"Kami sangat terganggu sekali dan tidak nyaman, jadi sangat malu kalau ada tamu datang ke rumah. Saya sampai tidak berani membuka pintu ruang tamu dan jendela saat ada tamu datang karena bau langsung masuk ke ruangan rumah," tambahnya, Rabu (10/6/2026).
BACA JUGA:Dindik Kota Batu Bakal Sanksi Berat Pelaku Manipulasi Jalur Zonasi SPMB
Dilema Biogas dan Ketegasan Solusi DLH
Dalam peninjauan di lokasi, Tim DLH menemukan fakta bahwa peternak sebenarnya sudah melakukan pengolahan feses sapi menjadi biogas melalui tabung digester untuk keperluan memasak. Namun, masalah krusial muncul karena air sisa pembersihan kandang langsung dibuang ke saluran got umum tanpa disaring terlebih dahulu.
Menyikapi hal ini, Sekretaris Dinas DLH Kota Batu Latif menegaskan bahwa pemanfaatan biogas saja tidak cukup jika hilirisasi limbah cairnya masih merugikan tetangga sekitar.
"Ya, apalagi yang berdekatan seperti ibu Kharisma ini dan keluarganya. Mereka berharap ada penanganan dari kami agar aliran limbah kotoran sapi tidak lagi mencemari saluran got depan rumahnya. Karena itu, hari ini kami sengaja sidak ke lokasi," ujar Latif usai menurunkan tim lapangan.
BACA JUGA:Pastikan Sesuai Juknis, Kepala Dindik Kota Batu Monev SPMB SMP Jalur Prestasi
Sebagai solusi mutlak, DLH menginstruksikan peternak untuk segera membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang standar.
"Salah satu tujuannya memastikan air sisa pembersihan kandang disaring dan dinetalkan sebelum dialirkan ke saluran umum. Jadi, tidak boleh langsung dibuang ke dalam aliran got depan rumah yang menimbulkan bau tidak sedap," tandas Latif secara tegas.
Menanti Peran Pemerintah Desa
Hingga berita ini dilansir, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Tlekung terkait langkah mediasi jangka pendek ataupun solusi konkret dari pihak desa untuk mengawal sengketa antar-warga ini.
BACA JUGA:Pasar Induk Among Tani Bertransformasi Jadi Destinasi Kuliner Favorit di Kota Batu
Intervensi dari DLH Kota Batu melalui kewajiban pembangunan IPAL diharapkan menjadi titik balik bagi tata kelola peternakan di kawasan padat penduduk. Peternak dituntut tidak hanya mengejar nilai ekonomis dari energi biogas, tetapi juga wajib bertanggung jawab penuh atas hak warga sekitar untuk mengirup udara bersih dan hidup sehat.
Sumber:
